Harga ayam di peternak kini berkisar Rp 10.000-13.000/kg, padahal biaya produksi mencapai Rp 17.000/kg. Saat normal, harga ayam di peternak mencapai Rp 21.000/Kg.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP), penurunan harga ayam di peternak juga berdampak pada harga daging ayam di pasar. Data SP2KP yang merupakan data harga rata-rata nasional menunjukan harga daging ayam terlihat menurun tajam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui para peternak ayam memusnahkan 6 juta ekor bibit ayam tujuannya agar harga ayam menjadi stabil, karena saat ini harga ayam anjlok sekitar 40% di level peternak. Peternak mengaku baru menikmati harga daging ayam ras cukup bagus Rp 20.000-21.000/kg pada Juli-Agustus setelah sebelumnya mengaku harus jual rugi di bawah harga pokok produksi (HPP) selama 15 bulan.
Para peternak tak sampai dua bulan menikmati harga ayam yang tinggi, kini harga daging ayam ras kembali jatuh ke level Rp 10.000-12.000/kg.
"Tidak mudah mengatur harga di pasar, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Belum lama pada pertengahan Agustus harga ayam dianggap mahal. Kemudian pedagang demo," ungkap Don P. Utoyo, Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia kepada detikFinance melalui pesan singkat, Kamis (17/9/2015).
Don menjelaskan, penyebabnya yaitu para peternak tidak melakukan chick in atau pemasukan DOC (day old chick) saat hari raya Lebaran.
"Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan panik. Produsen ditanya-tanyai. Kita jelaskan itu karena waktu lebaran satu minggu libur, nggak ada atau amat sedikit pengusaha yang tetap lakukan pemeliharaan ayam," jelasnya.
Menurut Don, kondisi tersebut berdampak satu bulan kemudian, yaitu pada pertengahan Agustus harga mulai terkerek naik. Anomali tajam pun terjadi. Harga daging ayam di pasar sempat menembus Rp 40.000/kg. Berangsur turun namun justru kembali ke titik di bawah harga pokok produksi.
(rrd/rrd)











































