Dalam pertemuan kurang lebih 1 jam sejak pukul 11.00 WIB sampai 12.00 WIB, disepakati pengurangan produksi agar harga Final Stock (FS) ayam di tingkat peternak bisa naik di atas Rp 17.000/kg.
"Pengurangan pasokan kita sudah sepakati tadi, saya nggak tahu persennya detailnya (jumlah pengurangan). Namun sudah ada kesepakatan," ungkap Amran usai pertemuan di Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (18/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di saat yang sama, peternak dihadapkan pada kenaikan harga DOC (Day Old Chick/bibit ayam) yang saat ini harganya di kisaran Rp 5.100-Rp 5.300/ekor dari harga normal Rp 4.000/ekor. Peternak ayam pun mengalami kerugian.
Kejatuhan harga ayam saat ini disebabkan oleh surplus produksi ayam yang terlalu tinggi sampai 18 juta ekor/minggu. Kebutuhan ayam nasional hanya 42 juta ekor/minggu, sementara produksinya kini mencapai 60 juta ekor/minggu.
Kondisi ini membuat 13 Pengusaha perunggasan di bawah Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) sepakat mengafkirkan atau memusnahkan 6 juta ekor bibit ayam, untuk mengembalikan harga daging ayam yang saat ini jatuh di tingkat peternak.
Dengan adanya kesepakatan pengurangan produksi tersebut, Amran memastikan bahwa para peternak ayam tidak akan tekor lagi karena harga dapat segera naik di atas HPP.
"Ayam sudah ada kesepakatan antara peternak kecil dan peternak besar. Insya Allah dalam waktu dekat harga stabil," tutupnya.
(rrd/rrd)











































