Seorang warga Tanjung Priok di Jalan Lorong 22, bernama Indra mengakui proses pembebasan lahan berlangsung sejak 2006. Warga kala itu belum menyepakati nilai yang ditawarkan untuk bangunan dan tanah. Kini, mayoritas warga telah sepakat terkait besaran harga tanah. Harga yang dibayar oleh PT KAI senilai Rp 9,6 juta per m2.
"Tahun 2006. Kalau dulu masalah harga, ada sepakat dan nggak. Terus proses pendekatan dan sampai sekarang harga bagus," kata Indra kepada detikFinance di Pelabuhan Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kini tersisa 7 rumah warga dan 1 Mushola. 1 bidang milik saya. Tinggal perhitungan bangunan kalau tanah sudah sepakat," ujarnya.
Indra menyebut proses pendekatan dan diskusi dilakukan dengan KAI atau pemerintah melalui proses musyawarah. Ia menegaskan tidak ada perhitungan ganti rugi yang sampai ke level pengadilan.
"Di sini nggak ada yang sampai ke pengadilan," tuturnya.
Warga yang terkena gusuran proyek pembangunan rel kereta di area Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara memiliki cara agar terbebas dari campur tangan 'oknum' atau mafia tanah yang mencoba masuk ke dalam proses negosiasi pembebasan lahan. Caranya, warga membentuk tim yang anggotanya terdiri dari kepala keluarga korban gusuran.
Hal ini diakui memudahkan dalam proses negosiasi dengan pemerintah, yang sekarang diambil alih PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam proses ganti rugi lahan dan bangunan.
"Kita tim, tidak nggak ada orang lain yang ikut campur. Timnya merupakan warga yang terkena gusuran. Kita kompak, semua," kata
Untuk komunikasi, warga membuat juru bicara sehingga komunikasi dibuat satu pintu.
Jalur rel yang akan dikembangkan ke dalam pelabuhan adalah membentang dari Stasiun Pasoso (di luar pelabuhan) masuk ke dalam pelabuhan di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok. Namun saat ini dari Stasiun Pasoso ke lokasi JICT masih terputus terhalang pemukiman warga. Rencana lokasi bongkar muat kereta pelabuhan berada di sekitar kawasan Makam Mbah Priok.
Dari Stasiun Pasoso ke dalam terminal milik JICT, akan dibangun rel baru sepanjang 1,4 kilometer, termasuk sebagian melewati pemukiman. Jalur ini akan ditarik dari rel lama (existing) melalui lahan warga yang saat ini masih dalam proses pembebasan kemudian masuk ke dalam Terminal Peti Kemas (TPK) atau dermaga milik JICT.
(feb/hen)











































