Pengeboran jalur bawah tanah (underground) proyek angkutan massal berbasis kereta (Mass Rapid Transit/MRT) Jakarta dimulai hari ini, Senin (21/9/2015). Pengeboran dilakukan menggunakan mesin bernama Tunnel Boring Machine (TBM).
Mesin bor 'raksasa' yang memiliki diameter 6,7 meter, panjang 43 meter dan bobotnya 323 ton tersebut akan bekerja setiap hari hingga Desember 2016. Setiap hari, mesin bor raksasa tersebut mampu melubangi tanah yang berada di bawah Jalan Jenderal Sudirman sampai Jalan MH Thamrin Jakarta sepanjang 8 meter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengeboran pertama dimulai dari pertemuan antara stasiun bawah tanah dan stasiun layang (elevated) di bawah Patung Pemuda, Senayan. Mesin bor raksasa itu akan dioperasikan oleh kontraktor paket pekerjaan CP 104 dan 105 (Senayan-Setiabudi), yaitu SOW Joint Venture yang terdiri dari Shimizu, Obayashi, Wijaya Karya, dan Jaya Konstruksi. Mesin bor ini diproduksi perusahaan Jepang bernama Japan Tunnel Systems Corporation (JTSC), dan menggunakan teknologi Earth Pressure Balance (EPB) pertama di Indonesia.

Pengeboran perdana pagi ini dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi, saat sambutannya menyebut, MRT Jakarta sebagai contoh program pengembangan transportasi massal yang tertunda puluhan tahun, dan akhirnya bisa dimulai pembangunannya pada 10 Oktober 2013 lalu. Saat itu, groundbreaking dilakukan oleh Jokowi saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Mesin TBM ini untuk mendukung proyek MRT Jakarta fase I yang membentang dari Lebak Bulus sampai Bundaran Hotel Indonesia sepanjang 15,7 kilometer (km).

(feb/hen)











































