JK: Program KB Dianggap Paling Sukses di Dunia

JK: Program KB Dianggap Paling Sukses di Dunia

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 21 Sep 2015 13:12 WIB
JK: Program KB Dianggap Paling Sukses di Dunia
JK dan Puan Maharani (Maikel-detikFinance)
Jakarta - Satu program dari pemerintah Indonesia yang mendunia adalah Keluarga Berencana (KB). Program di era Presiden Soeharto ini mampu mengatasi persoalan lonjakan penduduk.

"Indonesia yang selalu menjadi bagian yang patut dijadikan pelajaran bagaimana kependudukan itu dianggap baik di dunia ini, karena adanya sustainability dalam pembangunan. Konsep KB dianggap paling baik dan sukses di dunia," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), dalam seminar tingkat tinggi tentang isu kependudukan dan pembangunan di Indonesia, di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (21/9/2015).
Β 
Ada empat aspek yang ditekankan dalam pelaksanaan program KB. Pertama adalah dari sisi agama. Kedua yaitu kebudayaan, ketiga adalah kesehatan, dan keempat adalah ekonomi. Ekonomi menjadi bagian paling akhir, karena dinilai sebagai dampak bila ketiga aspek tersebut dilaksanakan dengan tepat.

"Upaya pendekatan secara agama, kultural, kesehatan yang baik yang dapat dipahami, sehingga timbulkan harmonisasi yang baek yang dewasa ini dikenal dengan nama bonus demografi. Itu baru kemudian kita bicara ekonomi. Itu juga akan berdampak positif bila diimbangkan dengan pembangunan," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

JK menambahkan, selain KB ada program lain yang juga mendorong munculnya pemerataan penduduk di Indonesia, yaitu transmigrasi. Karena memang dengan jumlah penduduk sekitar 150 juta jiwa pada sekitar tahun 1970an cenderung tertumpuk di Jawa.

"Ini kombinasi dengan transmigrasi. Tentu upaya transmigrasi juga berjalan baik sampai akhirnya bagaimana pengendalian kependudukan dapat berhasil," tegas JK.

Bila hanya terpusat di Jawa, tentu akan membuat perputaran ekonomi berlebih. Akan tetapi juga bisa merugikan, karena melihat secara nasional ada ketidakseimbangan ekonomi. Untuk itu penduduk tadi digeser ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

"Penduduk yang padat sehingga membuat ekonomi berlebih, sehingga tak seimbang. Tapi juga kita tak drastis ambil kebijakan seperti Singapura atau China dan India dulu," pungkasnya.

(mkl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads