Menperin Sebut Banyak Industri Tutup Kalau Tak Pakai Garam Impor

Menperin Sebut Banyak Industri Tutup Kalau Tak Pakai Garam Impor

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 21 Sep 2015 15:27 WIB
Menperin Sebut Banyak Industri Tutup Kalau Tak Pakai Garam Impor
Jakarta -

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin menyebut akan banyak industri besar di Indonesia akan tutup bila tak pakai garam industri impor. Sebab menurutnya, banyak industri aneka pangan yang butuh garam dengan kadar NaCL (Natrium Chlorida) lebih dari 94%, sementara NaCL garam lokal rata-rata masih di bawah 92%.

Sebagai contoh, Saleh menyebut Coca Cola dan Indofood sebagai industri yang butuh garam berkualitas tinggi.β€Ž Jika dipaksakan harus menggunakan garam lokal, Saleh khawatir industri-industri seperti Coca Cola dan Indofood terganggu produksinya.

β€Ž"Industri mamin (makanan dan minuman) kita harus lihat ada macam-macam. Ada Coca Cola, Indofood, kan mereka menggunakan garam industri dengan kualitas tinggi juga. Nanti mereka tutup juga kalau nggak pakai garam industri," kata Saleh usai rapat koordinasi di Kemenko Kemaritiman dan Sumber Daya, Jakarta, Senin (20/9/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika kegiatan produksi sampai terganggu, perusahaan bisa saja melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap para pekerjanya. Padahal, saat ini kondisi ekonomi di dalam negeri sedang lesu.β€Ž "Kalau kita setop sekarang nanti industri malah setop produksi. Akibatnya bisa lebih besar," ungkapnya.

Karena itu, pihaknya menolak pengurangan impor garam untuk industri seperti yang diusulkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.β€Ž

"Konsen Kemenperin adalah jangan sampai industri kekurangan bahan baku. Yang penting industri tidak kekurangan bahan baku sehingga tetap bisa berproduksi," tandasnya.

Kata Saleh, sebaiknya kualitas dan produksi garam lokal digenjot dulu sebelum dilakukan pengurangan impor. Jika kualitas garam lokal sudah sesuai dengan kebutuhan industri, barulah impor garam boleh ditutup.β€Ž

"Maka itu kita ke depan garam lokal harus ditingkatkan kualitasnya," tutupnya.

Sebagai informasi, setiap tahun Indonesia membutuhkan garam sebanyak 3,3 juta ton. 1,8 juta ton diantaranya untuk konsumsi rumah tangga, sedangkan 1,5 juta ton untuk industri. Garam untuk kebutuhan industri masih harus diimpor dengan alasan kualitasnya belum dapat dicapai garam lokal.

Namun, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah kepemimpinan Menteri Susi ingin menekan impor garam menjadi hanya 1,1 juta ton tahun ini. Caranya dengan mendorong industri aneka pangan yang kebutuhannya mencapai 400.000 ton untuk menggunakan garam lokal saja.

(rrd/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads