RI Impor Garam Industri dari Australia Hingga China

RI Impor Garam Industri dari Australia Hingga China

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Selasa, 22 Sep 2015 09:32 WIB
RI Impor Garam Industri dari Australia Hingga China
Jakarta - Indonesia masih mengimpor garam kualitas tinggi untuk kebutuhan industri sekitar 2,2 juta ton per tahun. Garam kualitas tinggi tersebut dipasok dari Australia, China dan negara-negara Eropa. Kebutuhan garam terbesar umumnya datang dari industri makanan dan minuman hingga pertambangan.

"Yang produsen yang terbesar terdekat dengan kita adalah Australia, China dan Eropa," kata Direktur Utama PT Garam (Persero), Usman Perdana Kusuma kepada detikFinance, Senin (21/9/2015).

Negara-negara tersebut memiliki keunggulan dalam beberapa hal dari Indonesia, sehingga mereka mampu memproduksi garam kualitas tinggi. Usman mengambil contoh negara produsen garam dunia seperti Australia, melakukan proses periode produksi garam lebih lama daripada Indonesia yakni mencapai 3-4 bulan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proses pengolahan juga dilakukan beberapa tahap skala industri modern. Hal ini membuat produksi garam Australia lebih banyak dan berkualitas. Australia memiliki teknologi pengolahan untuk menghasilkan garam kualitas tinggi. Produksi garam juga didukung oleh lahan pengolahan garam yang luas.

"Di Australia punya puluhan ribu hektar, dengan masa panen lama. Ini ketebalan garam bisa 7 meter. Garam betul-betul mengkristal, kualitas bisa high grade," jelasnya.

Usman menyebut mayoritas pengolahan garam di Indonesia masih dilakukan secara tradisional. Akibatnya, kualitas produksi menjadi kurang kompetitif. Hal ini diperparah terkait penguasaan teknologi garam yang minim oleh para petani garam lokal.

PT Garam (Persero) memiliki rencana membangun refinery atau pengolahan garam berbasis teknologi pengolahan untuk menghasilkan garam berkualitas tinggi.

Refinery akan dibangun di wilayah Madura, Jawa Timur dengan kapasitas awal 70.000 ton per tahun. Garam tersebut ditargetkan bisa memenuhi standar industri pasca pengolahan.

"Saat ini, kita belum punya refinery," ujarnya.

(dnl/rrd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads