"Yang produsen yang terbesar terdekat dengan kita adalah Australia, China dan Eropa," kata Direktur Utama PT Garam (Persero), Usman Perdana Kusuma kepada detikFinance, Senin (21/9/2015).
Negara-negara tersebut memiliki keunggulan dalam beberapa hal dari Indonesia, sehingga mereka mampu memproduksi garam kualitas tinggi. Usman mengambil contoh negara produsen garam dunia seperti Australia, melakukan proses periode produksi garam lebih lama daripada Indonesia yakni mencapai 3-4 bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Australia punya puluhan ribu hektar, dengan masa panen lama. Ini ketebalan garam bisa 7 meter. Garam betul-betul mengkristal, kualitas bisa high grade," jelasnya.
Usman menyebut mayoritas pengolahan garam di Indonesia masih dilakukan secara tradisional. Akibatnya, kualitas produksi menjadi kurang kompetitif. Hal ini diperparah terkait penguasaan teknologi garam yang minim oleh para petani garam lokal.
PT Garam (Persero) memiliki rencana membangun refinery atau pengolahan garam berbasis teknologi pengolahan untuk menghasilkan garam berkualitas tinggi.
Refinery akan dibangun di wilayah Madura, Jawa Timur dengan kapasitas awal 70.000 ton per tahun. Garam tersebut ditargetkan bisa memenuhi standar industri pasca pengolahan.
"Saat ini, kita belum punya refinery," ujarnya.
(dnl/rrd)










































