Rini Soemarno Minta BUMN Genjot 'Produksi' Dolar

Rini Soemarno Minta BUMN Genjot 'Produksi' Dolar

Dana Aditiasari - detikFinance
Selasa, 22 Sep 2015 17:05 WIB
Rini Soemarno Minta BUMN Genjot Produksi Dolar
foto: rapat CFO BUMN di Kantor Pusat Pertamina (dana-detikFinance)
Jakarta - ‎Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno berharap perusahaan pelat merah Indonesia sebagai ujung tombak pemerintah dalam menggalang dan menghasilkan devisa dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS).

Alhasil, Rini meminta BUMN menggenjot dan membuat program kerja agar bisa 'memproduksi' atau menghasilkan valuta asiang lebih banyak di tengah menurunnya cadangan devisa (cadev) Indonesia. Posisi cadev Indonesia terkini US$ 103 miliar. Angka ini turun dari posisi akhir Agustus 2015 yang sebesar US$ 105,3 miliar.

"Kedepan secara nett, saya harapkan penyumbang devisa terbesar, jangan pengguna devisa terbesar. Hayo harus mampu, itu harapan saya," kata Rini dalam pidatonya dalam acara CFO BUMN Forum di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (22/9/2015).

CFO BUMN Forum merupakan‎ acara ajang pertemuan antar para Direktur Keuangan perusahaan BUMN. Acara ini didesain khusus untuk membicarakan kondisi terkini sekaligus menggalang sinergi antar BUMN dalam memecahkan permasalahan terkini tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sambutannya pada acara tersebut, Rini juga mengungkapkan bahwa banyak cara bisa ditempuh oleh perusahaan BUMN dalam rangka menarik valuta asing ke Indonesia.

"Garuda (maskapai Garuda Indonesia) bisa bikin program, kan sering ke luar negeri. Kemduian, Telkom bisa jualan kartu Telkomsel ke luar negeri. Banyak lah caranya," ungkap dia.

Dengan cara ini, BUMN tak hanya menjadi pengguna belanja dolar terbesar tetapi bisa berbalik sebagai penghasil devisa untuk Indonesia.

Rini mengambil contoh terhadap BUMN yang paling besar menghabiskan devisa dalam jumlah besar. Diantaranya Pertamina yang membutuhkan banyak dolar untuk mengimpor BBM, atau PLN membutuhkan dolar untuk pengadaan peralatan dan mesin-mesin untuk pembangunan pembangkit listrik.‎

"Mana pak Arif (Dirkeu Pertamina) dan Sarwono (Dirkeu PLN). Hayo berdiri, ini dua BUMN yang menggunakan devisa terbesar,‎" pungkas dia.‎

(dna/feb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads