Bangun Peternakan Sapi di Australia Lebih Murah daripada di RI

Bangun Peternakan Sapi di Australia Lebih Murah daripada di RI

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2015 10:30 WIB
Bangun Peternakan Sapi di Australia Lebih Murah daripada di RI
Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan bahwa sudah ada 20 calon investor yang tertarik membangun peternakan sapi di Indonesia. Tapi ternyata baru 4 dari 20 calon yang benar-benar serius mau membangun peternakan sapi, dari 4 perusahaan tersebut baru 1 saja yang sudah mulai melakukan pembangunan.

Salah satu penyebabnya ialah mahalnya ongkos yang harus dikeluarkan untuk lahan peternakan sapi, proses pembebasannya juga sulit. Dibandingkan dengan Australia, proses pembangunan peternakan sapi di Indonesia jauh lebih sulit dan lebih mahal.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi, Syukur Iwantoro mengungkapkan, bahwa banyak lahan yang potensial untuk peternakan sapi di Indonesia berstatus hutan produksi. Untuk menggunakannya, investor harus mengurus izin pinjam pakai kawasan hutan yang tarifnya mencapai Rp 1,6 juta/hektar/tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini tentu terlalu mahal untuk peternakan. Padahal kan peternakan sapi nggak merusak lingkungan seperti kegiatan pertambangan, harusnya di-nolkan saja biaya sewanya,β€Ž" kata Syukur kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (22/9/2015).

Sebagai perbandingan, tarif sewa lahan untuk peternakan sapi di Australia hanya AU$ 40/ha/tahun alias hanya sekitar Rp 400.000/hektar/tahun, hanya seperempat tarif di Indonesia. Prosesnya pun sangat cepat, hanya 1 minggu.

"Di Australia cuma AU$ 40/ha/tahun, prosesnya 1 minggu, makanya banyak yang mau investasi di sana," Syukur menuturkan.

Syukur berharap hambatan-hambatan untuk investasi di sektor peternakan sapi, terutama lahan, dapat dihilangkan. Sebab, potensi peternakan sapi di Indonesia sebenarnya besar sekali. Indonesia juga butuh banyak peternakan sapi baru agar bisa swasembada daging sapi.β€Ž Nilai investasi yang dapat didatangkan dari peternakan sapi pun cukup besar, US$ 10 juta-30 juta untuk 1 peternakan saja.

β€Ž"Potensi Indonesia di sektor peternakan tinggi sekali, tapi prosedur untuk pembebasan lahan harus diubah, harus dibuat lebih cepatβ€Ž," tandasnya.

(rrd/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads