Salah satu penyebabnya ialah mahalnya ongkos yang harus dikeluarkan untuk lahan peternakan sapi, proses pembebasannya juga sulit. Dibandingkan dengan Australia, proses pembangunan peternakan sapi di Indonesia jauh lebih sulit dan lebih mahal.
Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi, Syukur Iwantoro mengungkapkan, bahwa banyak lahan yang potensial untuk peternakan sapi di Indonesia berstatus hutan produksi. Untuk menggunakannya, investor harus mengurus izin pinjam pakai kawasan hutan yang tarifnya mencapai Rp 1,6 juta/hektar/tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai perbandingan, tarif sewa lahan untuk peternakan sapi di Australia hanya AU$ 40/ha/tahun alias hanya sekitar Rp 400.000/hektar/tahun, hanya seperempat tarif di Indonesia. Prosesnya pun sangat cepat, hanya 1 minggu.
"Di Australia cuma AU$ 40/ha/tahun, prosesnya 1 minggu, makanya banyak yang mau investasi di sana," Syukur menuturkan.
Syukur berharap hambatan-hambatan untuk investasi di sektor peternakan sapi, terutama lahan, dapat dihilangkan. Sebab, potensi peternakan sapi di Indonesia sebenarnya besar sekali. Indonesia juga butuh banyak peternakan sapi baru agar bisa swasembada daging sapi.β Nilai investasi yang dapat didatangkan dari peternakan sapi pun cukup besar, US$ 10 juta-30 juta untuk 1 peternakan saja.
β"Potensi Indonesia di sektor peternakan tinggi sekali, tapi prosedur untuk pembebasan lahan harus diubah, harus dibuat lebih cepatβ," tandasnya.
(rrd/rrd)











































