"Coba lihat, bawang sebelum Ramadhan ada rencana mau impor, sekarang malah ekspor. Sudah ada 2.000 ton, dan ditargetkan ada 20.000 ton nanti ke beberapa negara. Sampai hari ini sudah hemat devisa Rp 50 triliun," ungkap Amran ditemui di Masjid Istiqlal, Gambir, Jakarta, Kamis (24/9/2015).
Meski demikian, ada komoditas yang permintaan tinggi seperti kedelai, hingga daging sapi yang masih harus diimpor. Meski diimpor, angkanya terus ditekan dengan jalan memaksimalkan produksi petani dan peternak lokal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
"Jagung kita ekspor, meski tidak sebanyak tahun lalu. Kedelai kita impor sudah berkurang, beras sampai mau satu tahun pemerintahan Jokowi-JK belum ada impor sama sekali. Ini dong yang disorot (media)," imbuhnya.
Dalam urusan swasembada pangan, menurut Amran, Presiden Joko Widodo tidak main-main. Hal ini, terbukti dari kenaikan anggaran Kementan hingga dua kali lipat tahun ini dibanding tahun sebelumnya.
"Seminggu dua kali Pak Presiden (telpon)," katanya.
Tak hanya itu, untuk pengendalian harga pangan, Kementan juga menggencarkan pendirian toko tani di sejumlah daerah yang mengalami fluktuasi harga kebutuhan pokok. Tahun depan, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 200 miliar untuk pendirian 1.000 toko tani baru.
"Kita buat pasar toko tani Indonesia. Itu bisa memangkas rantai pasok dari pangan. Itu 1.000 toko di Surabaya Bandung, Jabodetabek, Makassar, Medan dan kota lain tahun depan. Sudah ada 40 toko tani dan itu sudah beroprasi. Kita bergerak cepat," tutupnya.
(feb/feb)











































