Salah satu tema yang dibahas adalah pengembangan jaringan kereta cepat (High Speed Railway/HSR). Acara ini dihadiri oleh ahli kereta dunia dari Jepang, Prancis, dan Jerman. Hadir pula akademisi dan Praktisi di bidang perkeretaapian.
"Terima kasih untuk yang hadir di seminar internasional hari ini. Kita Usung dua tema yang lagi ramai. Pertama soal Rail Oriented Development (ROD) dan Running Higher Speed Railway. Penyaji dari Jepang, akademisi, pengamat transportasi akan berbagi berbagai hal dari berbagai aspek," kata Direktur Utama KAI Edi Sukmoro, saat membuka seminar kereta di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Selasa (29/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk pengembangan kawasan komersial di area stasiun, Jonan meminta Direksi KAI dan anak usahanya memperhatikan kapasitas daya angkut kereta, seperti KRL Commuter Jabodetabek, terlebih dahulu.
Kapasitas KRL saat ini belum mampu mengikuti kebutuhan terhadap angkutan transportasi sehingga kepadatan masih terjadi setiap hari. Bila memenuhi hal itu, baru pengembangan kawasan komersial, seperti apartemen di area stasiun, bisa dilakukan.
Bila daya angkut kereta masih belum bisa dipenuhi oleh KAI, Jonan menyebut lalu lintas penumpang semakin semrawut.
"Saran saya, penuhi kapaitas baru dibangun (area komersial seperti apartemen), mau dibangun di atas stasiun 20-30 lantai seperti Jepang dan banyak negara bisa asalkan kapasitas transportasi ada. Kapasitas transportasi kita belum sampai. KAI harus penuhi itu," kata Jonan.
Untuk kereta cepat, Jonan siap memberi izin asalkan proyek tersebut mengikuti regulasi. "Kalau mau bangun sendiri, silahkan. Nanti kita review design," ujarnya.
(feb/ang)











































