"Kemarin kesepakatannya adalah mereka (pedagang beras) membantu pemerintah menurunkan harga beras. Kemudian menjaga stabilitas harga," ungkap Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kepada detikFinance di sela kunjungan kerja ke Blitar, Jawa Timur, Rabu (30/9/2015).
Amran menuturkan, para pedagang mengaku kepada Presiden Jokowi bahwa stok beras sebenarnya masih aman, pasokan juga masih normal. Artinya, kenaikan harga beras bukan karena kekurangan pasokan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga beras, menurut Amran, lebih disebabkan oleh faktor psikologis pasar akibat terpengaruh oleh isu El Nino yang menimbulkan kekeringan di berbagai daerah.
"Mungkin psikologis pasar saja karena ada El Nino, kekeringan. Suplai ke Pasar Induk Cipinang masih normal, itu kata mereka (pedagang beras). Aku turun langsung ke lapangan juga untuk cek apakah ada panen," paparnya.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan mengklaim bahwa ketersediaan beras nasional masih aman sampai saat ini meski ada kenaikan harga beras dalam sebulan terakhir.
"Pak Presiden kan mengatakan stok (beras) aman. Ini (stabilisasi harga) akan akan didorong terus dengan operasi pasar," kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Srie Agustina.
Srie menyebut kenaikan harga beras masih belum signifikan, hanya sekitar 2% dibanding Agustus lalu. Berdasarkan data Kemendag, rata-rata harga beras kualitas medium pada Agustus lalu Rp 10.000/kg, sedangkan pada bulan ini di kisaran Rp 10.300/kg. Perum Bulog telah ditugaskan melakukan operasi pasar sejak Jumat pekan lau untuk menstabilkan harga.
"Yang jelas tren kenaikannya kita lihat nggak sampai 2%. Itu biasanya yang kita lakukan untuk mengembalikan harganya ke semula adalah operasi pasar. Ini sudah jalan mulai Jumat kemarin," ucapnya.
(rrd/rrd)











































