Hari Batik Nasional

Ada 47.000 IKM Batik, Serap Hampir 200.000 Tenaga Kerja

Lani Pujiastuti - detikFinance
Jumat, 02 Okt 2015 13:10 WIB
Jakarta - Perkembangan bisnis batik pasca dikukuhkan sebagai salah watu warisan budaya oleh United Nation Education Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009 semakin berkembang di dalam negeri. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan ada 47.755 unit IKM batik di seluruh Indonesia.

Jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai 199.444 orang. Pemerintah masih mengupayakan beragam cara agar IKM (Industri Kecil Menengah) batik bisa semakin berkembang.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah mengatakan Indonesia muncul sebagai salah satu negara paling kaya corak batik di dunia, dari sekian negara yang lain yang juga mengembangkan batik.

”Batik Indonesia walaupun ada suara bahwa beberapa pelakunya terpaksa tidak semaju sebelumnya, tetapi sebenarnya batik terus-terusan tumbuh. Generasi muda pun punya motif tersendiri. Lalu ada sekitar 15 negara klaim punya batik tapi itu sebetulnya punya corak sendiri-sendiri yang beda dengan Indonesia. Proses dan motif batik, Indonesia punya tersendiri. Keragaman motif kita sangat kaya,” ujar Euis pekan lalu.

Menurut Euis, Indonesia punya kekayaan ragam motif batik yang filosofis, desainnya menarik dan proses pengerjaan dengan alat canting yang unik.
 
Di tengah pertumbuhan jumlah pelaku maupun tenaga kerja, Euis mengaku masih tidak bisa mengabaikan adanya keluhan dari para pelaku IKM batik.

“Keluhan masih sama, kadang-kadang bahan baku sulit. Tadi saya cek bahan baku baik-baik saja. Kenaikan harga bahan baku saat ini terjadi tetapi karena mereka punya nilai lebih dengan temuan-temuan yang unik di motif, mereka tidak begitu terganggu dengan harga,” jelas Euis.

Ajang pameran-pameran menjadi salah satu langkah Kemenperin membantu promosi batik. Apalagi pembatik di bawah binaan Yayasan Batik Indonesia, kata Euis merupakan maestro penghasil maha karya batik.

“Pembatik di bawah Yayasan Batik Indonesia ini penghasil maha karya batik di Indonesia. Pameran ini salah satu cara bantu promosi,” tambahnya.

Terkait lesunya daya beli, Euis melihat dari dua sisi yang berbeda. Batik untuk koleksi cenderung tidak terdampak, sedangkan penjualan batik dengan pangsa pasar menengah ke bawah yang terganggu.

“Batik-batik tulis untuk koleksi punya segmen pasarnya sendiri. Kalau segmennya yang berkelas seperti pameran sekarang, mereka tidak merasa ada masalah untuk menjual batik meski harganya juta-jutaan. Belasan juta, puluhan juta, ada aja yang beli. Produsen yang repot adalah pembuat batik-batik yang dijualnya tidak mahal tapi pasarnya sudah kewalahan atau pasarnya sudah tidak lagi belanja batik banyak,” jelas Euis.  

Daya beli, menurut Euis bukan hanya masalah yang tengah dihadapi Indonesia. “Daya beli itu masalah dunia. Masyarakat dunia sedang mengerem belanjanya. Punya uang tapi melihat dulu waktunya kapan ada prioritas batik ini bagian dari fashion yang sifatnya lebih elastis. Jadi nanti-nanti belinya juga boleh. Manakala semua rada mengerem belanjanya maka belanja batik ikut mengerut juga. Tapi tidak berhenti,” kata Euis.

Kemenperin tengah membangun reputasi batik lewat batik mark. Batik mark ini gunanya untuk mempermudah konsumen menandai perbedaan antara batik tulis, batik cap dan batik kombinasi. Batik tulis diberi mark emas, batik kombinasi dengan warna perak dan batik cap dengan warna putih.

“Batik mark, permasalahannya adalah kalau mau kita tes ada dua. Pertama, mengurus batik mark harus sekaligus dengan SNI (Standar Nasional Indonesia), supaya tidak bolak-balik diambil sampelnya. Kedua, kalau diambil sampelnya itu kan harus digunting. Batik itu hasil karyanya sangat sangat prima, jadi cacat dong kalau digunting. Jadi belum ketemu caranya. Itu yang sudah daftarkan batik mark baru volunteer saja, ada yang rajin bikin batik mark. Sebagai contoh ini lho yang emas, ini lho yang perak,” ujar Euis.

Euis mengungkapkan, angka pengguna batik mark masih berkisar 20 pengusaha. “Jumlahnya tidak bertambah karena pengusaha masih beranggapan ngga dikasih batik mark juga orang pada beli,” tambahnya.

Selain itu, menurutnya, kesadaran pembeli juga bermacam-macam. Ada yang kurang mementingkan mark tapi lebih mementingkan proses pembuatannya pakai canting atau tidak.

(hen/hen)