Batik Corak Kuno Jadi Incaran, Buatan 1920-an Dibanderol Rp 12 Juta

Hari Batik Nasional

Batik Corak Kuno Jadi Incaran, Buatan 1920-an Dibanderol Rp 12 Juta

Lani Pujiastuti - detikFinance
Jumat, 02 Okt 2015 16:30 WIB
Batik Corak Kuno Jadi Incaran, Buatan 1920-an Dibanderol Rp 12 Juta
Jakarta - Corak batik makin kuno saat makin diincar. Salah satu pengincarnya yaitu kolektor batik kuno dan perhiasan antik, Soel Djang Rono. Kecintaan akan batik membuatnya tidak berhenti berburu mengumpulkan kain batik kuno asli Indonesia. Ia tidak rela melihat kain-kain batik kuno nan langka ‘terbang’ ke tangan kolektor asing dan tidak kembali ke Indonesia.

Soel Djang Rono punya banyak koleksi batik diantaranya berasal dari Pekalongan, Solo, dan Jogja. "Saya suka kumpulkan kain batik tulis ‘lawas’ asli dari berbagai daerah. Saya nggak rela kalau itu jatuh ke tangan kolektor asing dan nggak kembali ke sini," ungkapnya kepada detikFinance, pekan lalu.

Ia sering ikut berpartisipasi dalam berbagai pameran batik, di setiap stan yang menampilkan koleksi kain batik kuno dan perhiasan antiknya. Ada sebuah kain bercorak floral berwarna merah kuning mencuri pandangan. Selain karena warnanya, juga karena keterangan yang tertulis di bawah kain tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tertera bahwa nama motif kain tersebut motif pagi sore asal pekalongan. Tahun pembuatannya yaitu 1920. Harga yang ditawarkan tidak tanggung-tanggung yaitu Rp 12 juta. Makin berumur, apalagi dibuat oleh maestro batik dengan corak yang khas dan detail semakin meningkatkan nilai jual kain batik kuno. Lebih penting lagi, bahwa membuat satu lembar kain batik butuh proses panjang bahkan memakan waktu hingga lebih dari 3 bulan.

"Itu batik kuno asli Pekalongan. Kelihatan corak khas Pekalongan warna-warna terang. Namanya motif pagi sore. Karya pembatik lama seperti Oey Soe Tjoen, itu sudah sulit didapat dan harganya mahal. Batik karya Eliza Van Zulyen itu banyak dicari dan sudah langka juga. Nilai batik kuno itu makin tinggi tergantung umurnya, siapa yang bikin, corak dan kehalusannya," jelas Soel Djang Rono.

Ia mengaku koleksi paling lawas yang dimilikinya yaitu dibuat tahun 1920-an. "Kebetulan nggak dibawa. Nama coraknya batik kompeni. Saya biasa dapat kain-kain lama dari orang di daerah yang biasa tawarkan ke saya," kata wanita yang sudah gemar mengoleksi kain batik sejak 1979 ini.

Ia mengaku koleksi kain batiknya kalah banyak dibanding perhiasan antik. "Kalau kain nggak begitu banyak. Masih lebih banyak perhiasan lawas. Kain itu senang mengumpulkan saja sembari dipakai sendiri," katanya.

Koleksi kain batiknya kebanyakan dari tahun 1920-1950. Ia sangat telaten merawat kainnya sebab kain batik lawas perlu perlakuan khusus agar tidak rusak termakan usia. "Selama disimpan itu sekali-sekali harus dijemur dan menyimpannya dikasih bubuk merica biar ngga ada kutu atau serangga," kata Soel Djang Rono.

Ia betul-betul ingin menjaga batik kuno asli RI agar terjaga keberadaannya. Kain batiknya hanya Ia jual ke sesama kolektor di dalam negeri. “Saya ngga mau komunikasi sama kolektor luar. Sayang, nanti abis koleksi kita sendiri. Sebisa mungkin koleksi kain dan perhiasan saya jualnya ke kolektor lokal saja. Jangan sampai warisan budaya kita, tapi nemunya di museum—museum negara lain,” jelasnya.

Selain kain batik, Soel Djang Rono gemar mengoleksi perhiasan antik yang dari berbagai daerah seperti Aceh, Padang, Makassar, NTT, Sumba, Flores, Pulau Nias, dan banyak lagi.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads