Akibatnya, kunjungan wisatawan asing dan domestik masih minim. Target dari program 'mempercantik' ini, pemerintah ingin wajah parawisata di Danau Toba bisa menyerupai destinasi wisata favorit dunia di Monaco.
"Kami ingin buat Danau Toba jadi kayak Monaco. Negara kecil tapi indah," kata Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, saat merayakan hari batik nasional di Pasaraya, Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu (3/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program mempercantik Danau Toba, di antaranya peningkatan kapasitas Bandara Silangit di dekat Danau Toba.
"Kita juga minta jalan dari Medan-Danau Toba dilebarin. Kalau itu terjadi, banyak traffic ke Toba dari Medan," jelasnya.
Pemerintah juga akan membangun saluran drainase, internet, hingga hotel. Pengelolaan dan pengembangan Danau Toba, kata Rizal, nantinya juga berada di bawah otoritas wisata, sehingga mampu mengelola secara mandiri.
"Toba harus kita bikin Tourism Authority biar dikelola, biar tidak ada bupati terlalu banyak ikut campur tangan kelola. Ada kepala otoritas," ujarnya.
Konsep pengelolaan independen tersebut juga bakal diterapkan di Lombok, Flores, hingga Bromo. Rizal juga menjelaskan tentang rencana pengembangan wisata di Gunung Bromo.
"Bromo saya mau kembangkan, tapi pergi bukan lewat jalan yang biasa tapi lewat offroad. Ada hutan, ada savana indah sekali. Saya minta tolong PU benerin sedikit saja supaya bisa dipakai jalan offroad," tuturnya.
Lokasi berikutnya yang menjadi prioritas penataan ialah Yogyakarta. Ia ingin menjadikan obyek wisata Borobudur yang tersohor sebagai salah satu tujuan wisata religi dunia.
"Kami ingin bikin borobudur Mekkah-nya orang Budha. Angkor Wat di Thailand itu lebih jelek dari Borobudur tapi turisnya 6 juta orang. Ke depan, nggak bisa setiap orang bisa berkunjung ke Borobudur, misal hanya boleh sehari dua hari umum, sisanya buat upacara religius tapi pertama airport-nya dan jalannya harus dibenahi," paparnya.
(feb/dnl)











































