Petani yang memang akan melakukan panen, bersiap untuk menemui Presiden Joko Widodo pada Sabtu pagi (3/10/2015). Mereka memakai kaos hijau yang sama sebagai penanda identitas dan bersiap di posisi masing-masing untuk memotong padi yang telah menguning.
Presiden Jokowi pun tiba didampingi Menteri Pertanian, Amran Sulaiman dan Wali Kota Solo, FX Rudi Hadiatmo. Mereka berjalan menuju hamparan sawah untuk melihat-lihat bagaimana hasil panen padi yang ditanam menggunakan pupuk mikrobia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian ini mikrobia jenis BeKa dan Pomi ini diserahkan ke petani-petani yang kena puso (gagal panen). Ini sinergi antara pemerintah dengan BeKa-Pomi dan varietas PB3s," ujar Amran kepada Jokowi.
"Kalau hanya diberikan saja, lalu pendampingannya bagaimana?" tanya Jokowi tiba-tiba.
"Izin Bapak Presiden, tahun ini ada 8.700 pendamping. Yang mendampingi 8.700 datang dari mahasiswa, dosen, penyuluh dan Babinsa seluruh Indonesia," jawab Amran.
Wartawan kemudian bertanya apakah dengan begini masih perlu impor beras. Amran lalu tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Kenaikan produksi ini mencapai 5 juta hektare. Impor-impor itu sudahlah. Kemarin kita ekspor kacang hijau seluruh Indonesia 60.000 ton. Di satu tempat saja bisa ekspor 3000 ton, ini luar biasa. Kita sudah ekspor bawang 1.500 ton, jagung 400.000 ton, ini yang asyik kita bicarakan. Tinggal padi tunggu gilirannya," papar Mentan.
"Kalau begitu sekarang pertanyaannya, kapan kita ekspor beras?" tanya Jokowi kepada Amran setelah mendengar jawaban itu.
Amran kemudian menjawab dengan mengawali perbandingan antara tahun 1998 dengan 2015 yang sama-sama terdampak El Nino. Di tahun 1998, RI masih impor sekitar 7,1 juta ton dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta.
Kini, penduduk Indonesia sudah mencapai angka 250 juta. Tetapi berkat kerja pemerintah, kata Amran, Indonesia belum melakukan impor sampai dengan hampir setahun masa pemerintahan.
"Sebenarnya kita juga sudah ekspor (beras) sedikit-sedikit. Tapi karena angkanya masih segitu, saya malu menyampaikannya," kata Amran kemudian.
(bpn/feb)











































