Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan sebagai anggota konsorsium, WIKA akan menyetorkan ekuitasnya atau modal sendiri untuk proyek kereta cepat, termasuk dari hasil penjualan beton untuk kereta cepat.
"Kalau nggak salah WIKA itu kalkulasinya karena berhubungan dengan pekerjaan yang akan diterima oleh WIKA Beton, besar sekali WIKA Beton dapatkan beton pembangunannya ini, kalau nggak salah Rp 1,8 (triliun). Nanti tanya WIKA ya," kata Rini usai raker di DPR saat ditanya asal ekuitas WIKA di proyek kereta cepat, Senin (5/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"60% itu konsorsium kita, 40% dari China. Nah ini masih finalisasi Joint Venture-nya. Insya Allah saya dapat laporan minggu ini, tapi kita lihat saja," katanya.
Ia menambahkan proyek kereta cepat ini akan memaksimalkan peranan dari para BUMN, termasuk bahan baku, tenaga kerja. Rini menargetkan 59% pekerja di proyek kereta cepat adalah pekerja di dalam negeri, khususnya untuk kegiatan konstruksi beton, termasuk baja yang akan dipasok dari pabrik baja BUMN PT Krakatau Steel Tbk (KS).
"WIKA akan mendapatkan order terbesarnya dalam pembangunan pilar-pilar dari jalur precast beton. Sehingga order akan besar, di mana keuntungan dari pemasangan itu keuntungan dari ekuitasnya," katanya.
Sementara itu Direktur Utama PT Wijaya Karya (WIKA) mengatakan untuk memenuhi komitmen tak menggunakan APBN termasuk dana Penyertaan Modal Negara (PMN) maka ekuitas perseroan untuk proyek kereta cepat bisa dari dua sumber.
"Kan nanti bisa lihat rights issue. Issue kan bukan PMN. Cukup kan Rp 2,2 triliun, sama keuntungannya (beton) Rp 1,8 triliun. Kita sudah janji nggak akan pakai PMN," katanya.
(hen/ang)











































