Chatib Basri Usul Program BLT Dibangkitkan Lagi

Chatib Basri Usul Program BLT Dibangkitkan Lagi

Dana Aditiasari - detikFinance
Senin, 05 Okt 2015 17:03 WIB
Chatib Basri Usul Program BLT Dibangkitkan Lagi
Jakarta - Berbagai kalangan percaya bahwa untuk menjaga sektor industri tetap bisa berjalan adalah dengan menjaga daya beli masyarakat.

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengungkapkan, salah satu upaya untuk menjaga daya beli tersebut adalah dengan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) seperti yang dilakukan di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Cara itu bisa dilakukan untuk menstimulus konsumsi masyarakat sehingga permintaan atas barang yang dihasilkan pelaku industri bisa tumbuh dan ekonomi kembali bergerak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Satu-satunya yang bisa dilakukan dalam waktu singkat adalah dengan cash transfer," ujar Chatib dalam diskusi di Sangri La Hotel, Jakarta, Senin (5/10/2015).

Saat ini sebenarnya Pemerintah telah menjalankan program berupa Dana Desa. Program ini diharapkan bisa menstimulus belanja Pemerintah daerah sehingga mendorong laju ekonomi secara nasional.

Sayang, menurutnya, langkah tersebut belum optimal lantaran masih banyak pejabat daerah yang belum terlatih melakukan pembukuan keuangan.

"Kenyataannya mendorong Pemerintah Daerah, Kabupaten, Kota membelanjakan Dana Desa ini nggak mudah. Mereka nggak terlatih membuat pembukuan yang baik, yang ada mereka jadi takut membelanjakannya," kata Chatib.

Selain itu, birokrasi di daerah yang berbelit pun dinilai akan menjadi hambatan penggunaan dana desa tersebut. Sehingga menurutnya BLT masih menjadi solusi terbaik di tengah perlambatan ekonomi seperti saat ini.

Ia memberi contoh seperti 2 tahun silam, sebanyak 15,5 juta kepala keluarga (KK) yang terdiri 4 orang/KK mendapatkan bantuan dana tunai melalui program BLT. Hasilnya, daya beli masyarakat langsung meningkat dan roda perekonomian kembali berputar.

"Bagi masyakarat tidak mampu, uang itu tidak akan ditabung karena untuk kebutuhan. Permintaan bergerak dan setelah itu barulah kita bicara penurunan suku bunga (BI rate)," katanya.

(dna/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads