Ia menargetkan dalam 4 tahun prosesnya sudah bisa dilaksanakan. Setidaknya ada 4 program menuju swasembada daging sapi yang akan dilakukan.
"Pertama, kita mau ciptakan industri breeding (pembibitan) sapi skala besar. Saya ingin bangun ranch (peternakan) seperti di Australia," ungkap Amran ditemui di Restoran Sunda Rasa, Sukabumi, Selasa (6/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah ada 3 yang minat, ada ranch dari Brasil dan Australia. Lokasi kita siapkan di Sulawesi dan Kalimantan, lahan masih luas," jelas Amran.
Kedua, adalah kembali menggencarkan program integrasi kebun sawit dan petermakan sapi, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. "Sapi kelapa sawit kita mau galakkan. Kita akan dorong terus," ujar Amran.
Ketiga, adalah program inseminasi buatan (IB) sapi indukan lokal unggul. Melalui program ini akan mempercepat tambahan populasi sapi di dalam negeri.
"Dari IB saya targetkan ada tambahan 3,8 juta ekor sapi, paket IB kita kasih gratis ke peternak. Coba bayangkan, 50% persen saja berhasil itu bisa nambah 1,5 juta ekor sapi," tuturnya.
Keempat, adalah terus memperbanyak impor sapi indukan asal Australia dan Selandia Baru. Selain itu, dengan rampungnya pembangunan pulau karantina di Belitung yang ditergetkan mulai beroprasi pada tahun 2017 mendatang, pihaknya membuka opsi impor dari negara lain yang harganya jauh lebih murah.
"Jadi kita kurangi impor sapi potong. Mulai saat ini, kita mau banyakin impor pabrik sapinya (indukan). Minggu depan akan datang 2.000 ekor di Kalimatan Timur, bertahap dari 11.000 ekor impor indukan tahun ini," katanya.
Namun Amran belum bisa menjamin impor daging sapi benar-benar bisa disetop dalam 4 tahun ke depan. "Belum (swasembada) dulu, yang peting produktivitas sapi dalam negeri naik dulu," tutupnya.
(hen/hen)











































