Teknologi Bor Terowongan Sodetan Ciliwung Juga Dipakai di MRT

Dana Aditiasari - detikFinance
Senin, 12 Okt 2015 17:27 WIB
Jakarta - Indonesia semakin giat melakukan pembangunan infrastruktur dengan menggunakan peralatan-peralatan berteknologi tinggi. Salah satunya adalah proyek terowongan anti banjir sodetan Sungai Ciliwung, Jakarta Timur.

Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengungkapkan, teknologi yang digunakan dalam proyek ini adalah teknologi yang sama dengan yang digunakan pada teknologi bor Proyek Mass Rapid Transport (MRT).

"Sama-sama dibangun di bawah tanah. Bikin terowongannya teknologinya sama antara yang Sodetan Ciliwung dengan yang terowongan MRT. Hanya saja diameter yang Sodetan Ciliwung lebih kecil hanya 3,5 meter, kalau yang MRT 7 meter diameternya," ujar Basuki di lokasi Proyek, Jalan Otista III, Jakarta, Senin (12/10/2015).

Sodetan Sungai Ciliwung dibangun berbentuk terowongan dengan di kedalaman 14 meter di bawah tanah. Terowongan ini menggunakan pipa berdiameter 3,5 meter dengan ketebalan 25 cm.

Alat bor yang digunakan diproduksi oleh ISEKI Polytech, Jepang. Saat ini kata Basuki, alat bor ini masih dioperasikan oleh tenaga ahli dari Jepang namun didampingi oleh tenaga ahli dari Indonesia.

"Ini alat berteknologi tinggi. Kita pakai alat ini pakai tenaga dari luar. Nanti kalau pakai teknologi ini lagi, tenaga ahli kita sudah bisa mengoperasikan sendiri. Jadi learning by doing," ujar Basuki.

Adapun cara mengoperasikan alat ini, mata bor berputar menggerus lapisan tanah yang ada di depannya. Agar bisa maju, mata bor tersebut didorong dengan pompa hidrolik. Tanah yang digerus, dikeluarkan melalui rongga yang yang dihasilkan dari kegiatan pengeboran tersebut.

Sambil melakukan pengeboran, dilakukan pula pemasangan pipa beton beridameter 3,5 meter setebal 25 cm dan panjang pipa beton 2,5 meter di belakang mesin bor tersebut.

"Jadi setiap mata bor maju 2,5 meter, di belakngnya sambil dipasang pipa. Kemudian didorong, dipasang pipa lagi, didorong lagi sampai mata bornya tembus. Jadi rongga hasil pengeborannya langsung berlapis beton," katanya.

Di dalam terowongan, para tenaga ahli atau teknisi mengendalikan mesin bor menggunakan komputer. Dari layar komputer tersebut, kata basuki, para teknisi memperhatikan lapisan tanah yang sedang digerus.

Bila terlalu keras maka akan diambil tindakkan seperti membelokkan mata bor atau pun menambah tanaga atau pun tindakan lain agar tanah lebih lunak dan mudah digerus.

"Di dalam (tanah) mereka hanya duduk saja di depan instrumen, karena sudah sesuai format komputer. Semua prinsip kerja dengan tekanan jadi tanah di dalam didorong nanti lumpurnya akan dibuang ke atas," papar Basuki.

Lazimnya bekerja di dalam tanah, pelaksanaan pengeboran Sodetan Ciliwung juga dilengkapi dengan oksigen yang disambungkan dengan alat semacam selang. Nanti setelah pengeboran sudah sampai titik arriving shaft (tempat pengambilan mesin bor) yang persis di tengah sodetan, akan ditambahkan sirkulasi udara.

"Di dalam itu panas, sudah pasti ada oksigen dengan disambungkan semacam selang seperti blower. Nanti kalau sudah jebol di arriving shaft akan ada tambahan sirkulasi udara," katanya.

Target dari selesainya proyek ini diharapkan bisa mengurangi volume air di Ciliwung sebanyak 60 meter kubik per detik. Rata-rata debit air di Ciliwung mencapai 570 meter kubik per detik. Dengan adanya sodetan maka debit air Ciliwung bisa dikurangi menjadi 510 m3 per detik.

Pembangunan terowongan ini nantinya akan dilanjutkan di bawah Jalan Otista Raya lalu membelah Kelurahan Bidara Cina agar tersambung dengan Kali Ciliwung. Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta dan warga Bidara Cina belum mencapai kesepakatan terkait relokasi untuk kelancaran proyek sodetan itu khususnya di sisi inlet atau tempat masuknya air.

(dna/hen)