Maskapai penerbangan di Indonesia setiap tahun membutuhkan 770 penerbang baru. Namun sekolah penerbang di Indonesia, milik pemerintah dan swasta, belum mampu mencetak pilot baru sesuai kebutuhan pasar.
Akibatnya, pilot-pilot yang bekerja di Indonesia banyak yang didatangkan dari luar negeri. Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan penerbang baru, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan membeli 51 pesawat latih baru.
Pengadaan dilakukan mulai tahun 2015-2017 dengan skema multi years. Pesawat baru itu akan menambah jumlah pesawat pada sekolah penerbang milik Kemenhub.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenhub langsung membeli dari pabrikan, misalnya pesawat single engine dibeli seharga Rp 14 miliar per unit, multi engine Rp 22 miliar per unit. Proses pengadaan saat ini sedang dievaluasi di tingkat Inspektorat Jenderal (Irjen) Kemenhub.
Wahju menyebut pesawat tersebut akan ditempatkan pada sekolah penerbangan di Curug, Banyuwangi, Berau hingga Merauke.
"200 penerbang dihasilkan di Curug dengan 40 pesawat. Sebagian di Banyuwangi 100 penerbang per tahun dengan 20 pesawat, Berau Kalimantan 45 penerbang dengan 9 pesawat, 1 lagi di Merauke ada 45 penerbang lulus dengan 9 pesawat. Rinciannya 1 pesawat latih hasilkan 5 penerbang," ujarnya.
Untuk mencetak 1 seorang penerbang dengan Commercial Pilot License (CPL), Wahju menyebut diperlukan waktu sekitar 22 bulan. Namun, Kemenhub akan memperpendek waktu pendidikan. Caranya dengan menambah jumlah ruang udara untuk berlatih.
"Kita selama ini terkendala training area terbatas maka kita tambah area penerbangan di Palembang, Lampung, Cilacap, Semarang," ujarnya.
(feb/hen)











































