Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian Gatot Irianto menjelaskan dengan adanya konsolidasi lahan, maka lahan petani yang kecil-kecil akan digabung pengelolaannya sesama petani lainnya. Ia mencontohkan dengan skema ini, maka para petani lebih efisien saat mengelola lahan karena mekanisasi atau mesin modern mudah diterapkan di lahan luas.
"Ini sudah terjadi, begitu dibuka biaya olah tanah dari Rp 1,4 juta/hektar jadi Rp 400.000 saja. Lebih efisien dan lebih cepat," kata Gatot dalam sebuah seminar soal pupuk di kawasan Taman Mini, Selasa (13/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dikasih bantuan alsintan (alat mesin pertanian). Traktor biasanya roda dua kita kasih yang roda 4. Anda bayangkan jalan kaki di daerah becek itu susah, saya pernah ngalamin. Tanam di lumpur 10 meter kelingking jadi jempol semua, kita kasih transplanter agar bisa jalan dengan baik," katanya.
Menurutnya konsep semacam ini sudah diterapkan di Bone dan Soppeng Sulawesi Selatan, juga sudah diterapkan di Jepara, Jawa Tengah. Menurutnya kunci sukses ini adalah para petani harus solid dan kreatif saat lahannya digabung, dengan kepemilikan tetap.
"Jadi kalau alat bisa dikasih. Tapi orangnya itu yang kreatif susah, maksudnya harus solid karena kalau misah-misah susah," katanya.
Ia juga mencontohkan pola serupa terjadi di Karanganyar, Jawa Tengah, lahan yang tadinya sempit-sempit dimiliki oleh banyak petani, dengan konsolidasi pertanian jadi hamparan hingga 70 hektar.
"Dengan alat mesin pertanian itu gabungkan pematangnya jadi terbuka, biaya olah lahan turun dari Rp 1 juta ke Rp 400.000 (per hektar), traktor jalan dari ujung ke ujung kaya di Brasil," katanya.
(hen/rrd)











































