Menurut Bambang, hal ini turut mendukung penguatan rupiah dan menekan defisit transaksi berjalan (CAD).
"Itu menunjang untuk mengurangi CAD dan berpotensi untuk penguatan mata uang," ujar Bambang usai rapat kerja di Badan Anggaran DPR, Jakarta, Kamis (15/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspor terbesar adalah lemak dan minyak hewan nabati, senilai US$ 14,96 miliar. Sementara penurunan ekspor terbesar adalah bahan bakar mineral, yang turun 22,48% menjadi US$ 12,5 miliar.
Untuk impor, nilai impor Indonesia pada September adalah US$ 11,51 miliar, turun 25,95% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara dibandingkan Agustus 2015 turun 7,16%.
Impor migas turun 9,92%, dari US$ 2,11 miliar menjadi US$ 1,99 miliar di September 2015. Untuk impor non migas turun 6,82% menjadi US$ 9,6 miliar.
Lewat hasil ini, maka neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 1,02 miliar di September 2015. Secara kumulatif, sepanjang Januari-September 2015 nilai surplus neraca perdagangan Indonesia adalah US$ 7,13 miliar.
(ang/ang)











































