Follow detikFinance
Jumat, 16 Okt 2015 16:06 WIB

Ribuan Orang Ramaikan Gerakan Cinta Rupiah di Kawasan Perbatasan

Suhendra - detikFinance
Atambua - Bank Indonesia (BI) menggelar acara Gerakan Cinta Rupiah di ‎Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). BI juga menggelar layanan kas keliling untuk penukaran uang receh hingga penukaran uang lusuh dan rusak.

Acara yang dihadiri oleh 4.600 lebih pelajar, masyarakat umum, dan TNI di Atambua ini berlangsung di Lapangan Umum Simpang Lima, Atambua dan sekaligus pemecahan rekor kegiatan Tari Tradisional Tebe secara massal. Para ‎siswa dan masyarakat membentuk formasi tulisan 'RP' dan bentuk hati sebagai simbol cinta rupiah di lapangan yang berdebu.

Para pejabat yang hadir antara lain Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI Luctor E. Tapiheru, Kepala Kantor Perwakilan BI Nusa Tenggara Timur (NTT) Naek Tigor Sinaga‎, Wakapolda NTT Kombes Pol Sumartono dan lainnya.

Tigor mengatakan, ‎transaksi dengan menggunakan mata uang asing di wilayah NKRI patut diwaspadai terutama di daerah perbatasan. Kawasan perbatasan merupakan wilayah rawan beredarnya mata uang asing termasuk di Atambua, yang berbatasan langsung dengan Dili, Timor Leste.

"Kota Atambua yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste," kata Tigor dalam sambutannya di acara Gerakan Cinta Rupiah, di Atambua, NTT, Jumat (16/10/2015).

Tigor mengatakan, dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, rupiah merupakan alat pembayaran yang sah sehingga wajib digunakan dalam kegiatan perekonomian di wilayah NKRI.

Ketentuan mengenai kewajiban penggunaan Rupiah tersebut kembali dipertegas melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.17/3/PBI/2015 dan Surat Edaran (SE) No.17/11/DKSP tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Adapun setiap orang yang tidak menggunakan Rupiah di wilayah NKRI dan menolak Rupiah untuk pembayaran di wilayah NKRI akan dihukum dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 200 juta," ‎ katanya.

Ia mengatakan, gerakan cinta rupiah sangat penting di wilayah perbatasan karena rawan infiltrasi atau serangan mata uang asing, penggunaan mata uang rupiah‎ juga sebagai simbol menegakkan kedaulatan negara.

"Gerakan Cinta Rupiah, antara lain pertama wajib menggunakan rupiah di wilayah RI, kedua kita mengenal ciri-ciri keaslian rupiah yang harus ditanamkan sejak dari masa kecil," kata Tigor.

‎Dalam kesempatan yang sama, Luctor menambahkan, mengenai keaslian mata uang rupiah sangat penting agar masyarakat tak memiliki dan menyimpan mata uang rupiah palsu. Cara mengenal keaslian rupiah antara lain dengan 3D yaitu dilihat, diraba, dan diterawang.

"‎Rupiah adalah simbol kedaulatan, simbol NKRI yang kita pegang sehari-hari itu adalah alat yang mempersatukan kita sebagai bangsa, makanya kita jaga dan mencintainya," katanya.

‎Sementara itu, Plt Bupati Belu NTT Wilhelmus Foni mengatakan, selama ini negara tetangga Timor Leste menggunakan mata uang asing dolar AS di wilayahnya, tak terkecuali di kawasan yang berdekatan dengan wilayah Indonesia, seperti Atambua.

Ia menambahkan, acara ini bersamaan dengan kegiatan Expo Belu yang bertepatan perayaan ulang tahun kota Atambua ke-99 tahun. Acara ini juga bersamaan dengan festival kebudayaan Timoresia yang dipusatkan di Atambua‎.

"Jangan melupakan rupiah. Meski kita punya saudara di sana (Timor Leste), mereka menggunakan mata uang yang lain (dolar AS), kita harus bangga memakai rupiah. Saya tegaskan ini di ulang tahun ke -99 Kota Atambua," kata Wilhelmus.

(hen/drk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed