Menengok Perbatasan RI-Timor Leste dari Kota Tempat Gerakan Cinta Rupiah

Menengok Perbatasan RI-Timor Leste dari Kota Tempat Gerakan Cinta Rupiah

Suhendra - detikFinance
Sabtu, 17 Okt 2015 09:55 WIB
Menengok Perbatasan RI-Timor Leste dari Kota Tempat Gerakan Cinta Rupiah
foto: perbatasan RI-Timor Leste (Suhendra-detikFinance)
Atambua - Waktu menunjukan pukul 10.50 WITA di Atambua terasa matahari sudah seperti di atas kepala, ‎ indikator suhu udara di kabin mobil menunjukan suhu 35 derajat celcius siang itu. Aspal hitam di jalanan sekitar Bandara A.A. Bere Talo Haliwen‎, Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT)‎ seolah siap menyengat ban mobil yang melintas.

Mobil yang kami tumpangi bersama rombongan Bank Indonesia (BI) meluncur menuju ke arah timur Pulau Timor‎, dari Bandara Atambua ke pinggiran kota yang sempat menjadi judul film 'Atambua 39 Derajat Celcius'.

Tujuan kami adalah kawasan Motaain, merupakan salah satu titik dan pos perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste di Pulau Timor, NTT. BI menjadikan Atambua sebagai tempat diselenggarakannya Gerakan Cinta Rupiah yang diikuti oleh ribuan orang di Lapangan Umum Atambua, pada Jumat kemarin, (16/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jaraknya yang hanya 36 kilometer (km) dari Bandara Atambua, harus ditempuh sampai 30 menit. Kondisi jalan menuju kawasan perbatasan ini memang kondisinya sedang tidak baik.

Aspal hot mix mulus dengan lebar kurang lebih 8 meter atau dua lajur hanya bisa dinikmati beberapa km saja dari lokasi bandara. Setelah perjalanan Berselang 10 menit, kondisi jalan langsung berubah 180 derajat, bongkahan-bongkahan tanah dan batu krikil bertebaran sepanjang jalan, menandakan jalan ini sedang dalam perbaikan dan pelebaran total.

Menurut seorang warga Atambua, Yosef Tadeus, jalan Atambua-Motaain beberapa bulan terakhir memang sedang proses perbaikan dan pelebaran. Saat sebelum disebarkan, jalan ini hanya punya lebar sekitar 3 meter alias cukup mepet untuk kendaraan besar.

Sepanjang perjalanan di jalan yang tak beraspal tersebut, debu berterbangan akibat efek kondisi jalan yang kering, sehingga kendaraan yang melintas membuat efek debu yang ‎menyambut siapa saja yang berada di kawasan ini.

Maklum saja, menurut Yosef, di Atambua, hujan terakhir di kawasan ini turun pada Januari 2015. Tak keran, sepanjang perjalanan dominan bukit-bukit berwarna cokelat, karena rumput yang mengering.

"Jadi jangan coba-coba naik motor di sini, pakaian ada akan banyak nempel debu," kata Yosef yang merupakan sopir, Jumat (16/10/2015)

Selama perjalanan, alat-alat berat seperti ekskavator dan para pekerja terlihat sibuk‎, bahkan ada yang terlihat sedang mengerjakan pemotongan bukit cadas agar jalan lebih lebar. Sesekali kendaraan harus berhenti, untuk berbagi ruas dengan kendaraan yang berpapasan dari arah berlawanan.

Menurut Yosef, kawasan jalan Atambua-Motaain, dahulunya adalah hutan tanpa ada perkampungan warga, namun kini, secara sporadis terlihat beberapa rumah warga ‎sudah banyak terlihat. Pada masa transisi Timor Leste menjadi negara sendiri pada 1999-2000, kawasan ini menjadi tempat pengungsian, sampai saat ini perkampungan di sepanjang jalan menuju Motaain merupakan kawasan hunian baru.

Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 11.20 WITA, tibalah kami di sebuah pertigaan jalan yang kondisinya sudah mulus, terlihat papan penunjuk jalan, ke arah kiri atau sisi barat ke Atapupu, Indonesia, sedangkan ke kanan ‎atau sisi timur menuju Motaian. Di pertigaan ini, terlihat jelas pos Polisi seolah menyambut kedatangan rombongan BI.

Kendaraan pun yang sempat berhenti kembali melaju pelan, dari jauh samar-samar bangunan berwarna krem terlihat. Di sini lah pos terakhir perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Para TNI berpakaian loreng menyambut kedatangan kami.

Tak lama dalam hitungan menit, kendaraan rombongan BI yang dipimpin oleh Kepala Kantor Perwakilan BI NTT, Tigor Sinaga pun l‎angsung melaju. Sebelum masuk ke pos penjagaan Timor Leste, pelintas akan melewati sebuah jembatan perbatasan yang menghubungkan kedua negara.

Yang unik, jembatan ini memiliki dua pola warna sebagian hingga titik pembatas tengah jembatan yaitu dominasi merah putih sebagai ‎tanda masih wilayah Indonesia. Sedangkan sisanya lagi, warna tepi jembatan lebih dominasi warga merah dan Kuning sebagai tanda bahwa pelintas sudah masuk ke kawasan Timor Leste.

Sebelum memasuki pos perbatasan Timor Leste, pelintas disuguhkan oleh keberadaan bangunan unik, seperti konstruksi atap jembatan terbuat dari pipa besi ukuran besar‎ yang terangkai apik membentuk setengah lingkaran seperti kerangka tulang rusuk. Di sini, bertuliskan Timor Leste, artinya Anda sudah masuk kawasan negara tetangga.

Tak jauh dari bangunan ini, tepat sebelum pos perbatasan, terdapat sebuah tiang atau tugu bertuliskan Timor Leste, lengkap dengan batu prastasti. Bendera Timor Leste yang dominan warna merah dipadu sedikit warna kuning dan hitam terlihat jelas berkiba‎r di siang yang sangat panas terik itu.

Pantauan detikFinance, secara fisik bangunan pos di Timor Leste terlihat lebih baik daripada kondisi pos perbatasan di wilayah Indonesia. Bangunan besar kokoh dengan konstruksi permanen tertata apik. Sedangkan di Pos Lintas Batas Negara di sisi Indonesia, terlihat tak beraturan, banyak bangunan berdiri mulai dari pos TNI, Polisi, Bea Cukai, Karantina, Imigrasi, Money Changer dan lain-lain masing-masing berdiri dengan‎ penataan letak bangunan yang kurang sedap dipandang.

Menurut Yosef, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat datang ke pos perbatasan ini pada Desember 2014. Jokowi sempat memantau lokasi pos perbatasan di sisi wilayah Indonesia dan Timor Leste. Pasca kunjungan Jokowi, pada waktu itu ada rencana pembangunan Pos Lintas Batas Negara yang lebih terintegrasi. Namun berselang hampir 1 tahun Jokowi datang ke kawasan ini, kondisi pos perbatasan belum banyak berubah.

(hen/feb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads