Kini, masyarakat Indonesia mulai perkotaan hingga pedesaan mulai gemar mengkonsumsi produk pangan dari gandum seperti mi instan. Padahal, gandum 100% harus diimpor karena tidak ditanam di Indonesia.
"Setiap tahun konsumsi beras setiap tahun menurun. Di lain pihak, impor gandum naik. Ada peralihan konsumsi. Mi instan sekarang menjadi bagian kehidupan di desa," kata JK, saat acara panen raya padi dan peringatan hari pangan dunia di Desa Palu, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Sabtu (17/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus menghitung betul konsumsi kita. Upaya kita mengurangi impor. Jangan kita tergantung dari luar. Upaya yang tentu harus menjadi bagian dari kita semua," ujarnya.
Namun, JK mengaku, ada tantangan di dalam peningkatan produksi pangan seperti beras di tanah air. Faktor kekeringan hingga alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman sebagai tantangan. Hal ini, kata JK, harus dicari jalan keluarnya.
"Apakah sawah bisa ditingkatkan? perlu air. Di sisi lain hutan kita berkurang. Di sinilah perlu teknologi. Kita punya banyak tantangan. Penduduk bertambah, sawah berkurang. Teknologi, peralatan, bibit, pengairan yang baik itulah yang bisa mengatasinya," tuturnya.
(feb/dnl)











































