Hal ini dikarenakan pergerakan rupiah yang tiba-tiba menguat dalam kurun waktu singkat. Sekitar dua bulan, dolar AS kembali ke posisi Rp 13.200.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman menjelaskan, batas toleransi dari perusahaan adalah Rp 15.000. Bila terlewati, maka baru akan dilakukan penyesuaian harga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adhi memperkirakan kenaikan barang tadinya bisa mencapai 5% secara rata-rata. Ini juga sudah termasuk pertimbangan perlambatan ekonomi yang sudah terjadi sejak tiga tahun terakhir hingga sekarang.
"Angkanya sekitar mamin 5% sudah cukup berat. Jadi kita nggak mau lebih," paparnya.
Barang dengan kenaikan harga tertinggi, biasanya terjadi pada produk sekunder. Untuk produk pokok, menurut Adhi tidak bisa dinaikkan terlalu tinggi, karena nantinya bisa menyulitkan masyarakat.
"Yang secondary produk (paling tinggi), makanan minuman, yang tidak pokok lah itu yang berat," tukas Adhi.
(mkl/ang)











































