Menlu ke Pengusaha: Jangan Hanya Bermain di Negara 'Bersih'

Menlu ke Pengusaha: Jangan Hanya Bermain di Negara 'Bersih'

Lani Pujiastuti - detikFinance
Senin, 19 Okt 2015 11:50 WIB
Menlu ke Pengusaha: Jangan Hanya Bermain di Negara Bersih
Jakarta - Menteri Luar Negeri (Menlu),Retno Marsudi, memberi pesan kepada para pengusaha Indonesia, bila ekspansi atau menjalin bisnis dengan negara lain, carilah negara yang ekonominya belum maju, karena hal tersebut adalah peluang.

Pesan tersebut disampaikan Menlu Retno, saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, di Hotel Pullman, Jakarta, Senin (19/10/2015).

"Sektor swasta kita hanya bermain di tempat yang sudah bersih atau negara maju. Padahal pengusaha seperti di negara China masuk duluan ke Afrika, kita hanya dapat sisa," kata Retno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk itu, kata Retno, Indonesia saat ini membuka peluang investasi di Iran, di mana negara tersebut akan jadi Iran yang ekonominya terbuka, setelah ada kesepakatan terkait pengelolaan nuklirnya.

"Saya Jumat kemarin ke Iran bertemu Presiden Iran, ada beberapa kerja sama kita. Kedatangan kita kemarin ke Iran seperti mengambil nomor antrean dokter. Saya yakin bahwa hubungan kita secara politik bagus. Seharusnya saya tidak bermain di situ tapi pengusaha. Saya bertemu Presdien Iran lansung, saya sampaikan prioritas Indonesia adalah Iran. Saya sudah buka jalannya, tinggal swasta kita manfaatkan," ungkapnya.

Retno mengungkapkan, ketika pemerintah berkunjung ke Iran, Qatar, Saudi Arabia untuk membuka peluang investasi, pemerintahnya selalu bertanya, ke mana pelaku usaha swasta Indoensia?

"Ya itu tadi, kita itu dipotret negara lain, bahwa sektor swasta kita hanya bermain di tempat yang sudah bersih. Jadi jangan hanya bermain di negara yang sudah bersih," ujarnya.

"Dalam 12 bulan terakhir ini, para diplomat-diplomat kami siapkan untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi. Setiap diplomat harus ada bidang khusus ekonomi. Kita bentuk delivery unit di Kemenlu, yang tugasnya untuk mendiplomasi ekonomi, menjembatani kebutuhan di dalam dan ke luar untuk menyuarakan private sector," tutup Retno.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads