Selain menggunakan sinergi permodalan dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), Kementerian BUMN juga sedang mencari pinjaman dari dunia internasional.
"Pinjamannya kemungkinan dari internasional. Skema ini juga yang akan kami bicarakan," kata Rini usai rapat kerja di Komisi VI, DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan itu, Rini menegaskan pengambilalihan saham produsen tembaga dan emas di Papua tersebut tanpa dukungan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pendanaan murni dari sinergi BUMN dan pinjaman luar negeri.
"Insya Allah tidak pakai APBN," jelasnya.
Untuk memperlancar rencana ini, Kementerian BUMN telah menunjuk Bahana Securities untuk menilai opsi pembiayaan pembelian saham PTFI. Kementerian BUMN juga akan menyurati Menteri ESDM Sudirman Said dan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro terkait minat Kementerian BUMN mengambil porsi program divestasi PTFI.
"Tentunya kita bisa bersurat ke Kementerian Keuangan dan ESDM bahwa kami tertarik untuk mengambil saham itu," ujarnya.
Sampai saat ini, belum ada kepastian nilai dari 10,64% saham perusahaan tambang emas dan tembaga di Papua tersebut.
(feb/hen)











































