Berkunjung ke AS, Jokowi Akan Temui 250 Pengusaha

Berkunjung ke AS, Jokowi Akan Temui 250 Pengusaha

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 20 Okt 2015 20:57 WIB
Berkunjung ke AS, Jokowi Akan Temui 250 Pengusaha
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan berkunjung ke Amerika Serikat (AS) pada 25-28 Oktober mendatang. Dalam agendanya, selain bertemu dengan Presiden Barack Obama, Jokowi juga akan dijadwalkan menemui sekitar 250 pengusaha asal negeri Paman Sam tersebut.

"(Presiden akan bertemu) 250 pengusaha, sekitar itu," ungkap Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (20/10/2015).

Pengusaha yang akan ditemui berasal dari berbagai bidang, seperti energi, teknologi hingga pasar keuangan. Nantinya juga akan ada penandatanganan perjanjian kerjasama antar pemerintah (goverment to goverment) dan sesama pengusaha (business to business).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang jelas rencananya akan ada pertemuan dengan fund managers. Ada banyak sekali pendatangan MoU business to business. Jadi ada penandatangan MoU kerjasama goverment to goverment tapi ada lebih banyak lagi yang sifatnya business to business karena itu lah yang juga akan menjadi daging atau buah dari kunjungan tersebut," paparnya.

Retno menekankan, dari setiap kunjungan Presiden Jokowi memang harus jelas arah tujuannya. Kemudian bisa diimplementasikan dalam waktu dekat. Misalnya kunjungan ke kawasan Timur Tengah yang berhasil ditindaklanjuti dalam investasi di sektor minyak dan gas bumi (migas).

"Saat kita berkunjung ke satu negara, kita jelas tujuannya apa, kita jelas hasilnya sebagai apa dan sebagainya. Dan itu lah yang kemudian digarap oleh para menteri untuk menghadirkan hasil konkret dari sebuah kunjungan termasuk kunjungan ke AS," kata Retno.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada pembicaraan di bidang lainnya. Sisi politik dan budaya juga akan dibahas. Namun Retno menegaskan sejauh ini tidak ada isu politik yang akan diangkat secara spesifik.

"Kita punya mekanisme konsultasi bilateral yang juga akan meng-cover isu-isu yang sifatnya strategis. Jadi selama ini kita punya comprehensif partnership dari 2010 dan kemungkinan kita akan tingkatkan lagi. Politik sebenarnya itu bilateral, we dont have any open issue, ekonomi lebih banyak," tegas Retno.

(mkl/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads