Modus Baru Kapal Pencuri Ikan, ABK Asing Punya KTP Indonesia

Modus Baru Kapal Pencuri Ikan, ABK Asing Punya KTP Indonesia

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 21 Okt 2015 20:05 WIB
Modus Baru Kapal Pencuri Ikan, ABK Asing Punya KTP Indonesia
Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan bahwa kapal-kapal asing pencuri ikan di wilayah laut Indonesia makin pintar mengakali aparat keamanan. Pasca gencarnya pemberantasan illegal fishing, kapal-kapal asing tersebut mencari-cari modus baru untuk mencuri ikan.

Salah satu modus terbarunya adalah pencurian ikan dengan menggunakan perusahaan baru dan kapal-kapal nelayan lokal. Melalui pengusaha Indonesia yang menjadi agen kapal, mereka membuat perusahaan dengan nama baru karena perusahaan mereka sudah di-black list.

Lalu mereka membeli kapal-kapal milik nelayan lokal untuk menangkap ikan di perairan Indonesia. Meski menggunakan kapal lokal, Anak Buah Kapal (ABK) yang dipekerjakan adalah orang-orang asing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pengusaha Indonesia yang jadi agen kapal illegal fishing, mereka beli kapal nelayan lokal, bikin perusahaan baru untuk 'cuci ikan'. Kalau pakai kapal dan ABK asing kan langsung kelihatan, sekarang mereka pakai kapal lokal tapi isinya misalnya orang Filipina," ujar Susi dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta, Rabu (21/10/2015).

Susi me‎nuturkan, baru-baru ini KKP berhasil menangkap kapal asing yang menggunakan modus seperti itu. ABK asing yang dipekerjakannya bahkan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Indonesia. Mereka ketahuan bukan orang Indonesia karena hanya bisa berbicara bahasa asing.

"Ada yang pakai KTP Indonesia tapi nggak bisa berbahasa Indonesia," ucapnya.

Para nelayan asing, dia melanjutkan, ‎tetap nekat mencuri ikan di lautan Indonesia karena keuntungan yang menggiurkan. Ikan tuna dari laut Indonesia bisa dijual dengan harga sampai Rp 40 juta per ekor. Dapat 3 ikan tuna saja, nelayan asing bisa mendapat Rp 120 juta.

"Mereka dapat tuna besar itu Rp 40 juta. Sehari dapat 2-3 ikan tuna saja sudah ratusan juta," katanya.

Kapal-kapal asing pencuri ikan kini juga lebih banyak beroperasi di wilayah timur Indonesia karena banyaknya patroli di Indonesia bagian barat.‎

"Kapal-kapal (pencuri ikan) yang dulu standby di Batam, sekarang beroperasi di NTT, di perbatasan Timor Leste. Dari beberapa penyidikan awal, kita lihat beberapa pelaku sudah memindahkan kegiatannya ke wilayah timur Indonesia," ungkap Susi.

Susi meminta TNI Angkatan Laut untuk meningkatkan penjagaan di wilayah laut Indonesia Timur, terutama di perbatasan dengan Timor Leste dan Papua Nugini dimana banyak kapal asing pencuri ikan bersembunyi.

"Kapal-kapal eks Thailand, China, dan sebagainya banyak yang sembunyi di Papua Nugini dan Timor Leste. Saya sudah minta tolong TNI AL kirim kapal ke perbatasan Timor Leste dan Papua Nugini," pungkasnya.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads