Jokowi Minta ATM Bank BUMN Digabung, Bagaimana Perkembangannya?

Jokowi Minta ATM Bank BUMN Digabung, Bagaimana Perkembangannya?

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 21 Okt 2015 21:14 WIB
Jokowi Minta ATM Bank BUMN Digabung, Bagaimana Perkembangannya?
ATM Gabungan Bank BUMN
Jakarta - Pada Maret 2015 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta bank BUMN menggabungkan mesin-mesin ATM milik mereka, dengan tujuan untuk efisiensi biaya operasi dan kemudahan nasabah. Bagaimana perkembangan rencana tersebut kini?

Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Budi G. Sadikin mengatakan sejak 2 tahun lalu, bank BUMN sudah berupaya menggunakan merek Link. Saat ini merek tersebut kembali diperkuat dan sudah ada ATM yang diuji coba di Kementerian BUMN.

"Sejak dua tahun lalu digabungin ATM bank negara dan menggunakan nama Link. Mandiri bisa ambil di BRI, BRI bisa ambil di Mandiri. Sekarang kita lagi coba memikirkan, supaya brand-nya itu kuat. Jadi brand-nya Mandiri kita ganti dengan brand Link itu. Ini kita lagi kerjakan bareng-bareng. Logo ATM-nya juga bukan Mandiri, BRI, BNI. Kita baru lakukan testing, ada contohnya di kantor BUMN," tutur Budi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gagasan Jokowi ini diakui Budi bisa menghemat biaya investasi. Karena satu mesin ATM harganya bisa US$ 7.000-US$ 8.000, dan bila digabung maka biayanya lebih murah.

"Iya, sekarang lagi nyoba nasabah bingung apa tidak. Terus settlement dikonsiliasi ada bayaran-bayaran, nasabah Mandiri yang pakai di ATM-nya BRI yang pakai logo itu kan nanti uangnya dari BRI yang mengeluarkan. Jadi ada isu operasional yang mesti dites," jelas Budi.

Menteri BUMN, Rini Soemarno, meminta agar penggabungan mesin ATM bank BUMN ini bisa dilakukan tahun ini secara bertahap oleh 4 bank BUMN, yaitu Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Tabungan Negara (BTN).

"Belum ada target seluruh Indonesianya. Tapi kita diminta tahun ini kalau bisa sudah mulai. (Kawasan) belum kepikir. Mungkin yang dekat-dekat dulu, di Jakarta supaya lihat operasionalnya bagus apa tidak. Belum ditentukan juga jumlahnya, lagi dicoba-coba dulu," kata Budi.

(dnl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads