"Satu tahun pemerintahan, nggak ada impor beras. Itu kan (impor beras) baru rencana, itu hanya sebagai CBP (cadangan beras pemerintah) saja," ujar Amran di Bandara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (22/10/2015).
Pemerintah perlu cadangan beras nasional sebagai antisipasi kelangkaan beras. Stok beras impor pun disimpan di negara eksportir sehingga tak mengintervensi harga gabah di tingkat petani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Catatan belum pernah mengimpor beras, menurut Amran, karena pemerintah sudah fokus dan bekerja keras pada produksi gabah sejak awal pemerintahan.
"Sekarang tak impor itu karena kerja keras di Januari. Bisa dibayangkan kalau kita tak kerja keras di awal, dan tiba-tiba sekarang ada El Nino," terang Amran.
Kerja keras tersebut, kata Amran, antara lain membereskan saluran irigasi yang rusak di luasan 2,6 juta hektar hanya dalam setahun, hingga penyebaran alat pertanian (alsintan) pada petani sebanyak 62.000 unit.
"Janji presiden satu tahun 1 juta hektar irigasi tersier diperbaiki. Kita belum setahun sudah 2,6 juta hektar. Tahun lalu (alsintan) 4.000, sekarang 62.000," ujar Amran.
Menurutnya, kalaupun ada rencana impor, itu baru sebatas rencana untuk menjaga cadangan beras nasional. Bukan karena ketidakmampuan pemerintah menggenjot produksi beras di dalam negeri.
"Itu bentuk perhatian pemerintah. Belum impor setahun, baru rencana kontrak, kalau kita mengerti tidak akan sepotong-potong," tutupnya.
(hen/hen)











































