Pengusaha Pakan Ternak Protes Jagung Langka, Kementan: Produksi Surplus

Pengusaha Pakan Ternak Protes Jagung Langka, Kementan: Produksi Surplus

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 22 Okt 2015 14:16 WIB
Pengusaha Pakan Ternak Protes Jagung Langka, Kementan: Produksi Surplus
Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman baru-baru ini mendapat surat protes dari Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) karena kelangkaan pasokan jagung di dalam negeri akibat pengendalian impor yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) sejak Agustus 2015.

Direktur Pakan Ternak Kementan Nasrullah membantah adanya kelangkaan jagung, menurutnya, produksi jagung tahun ini melimpah, naik 1,6 juta ton dibanding 2014, sehingga tidak ada kelangkaan jagung.

‎"GPMT telah mensurati Pak Menteri Pertanian terkait jagung. Beberapa poin yang ingin saya sampaikan adalah, dari segi data, berdasarkan Aram I BPS, produksi kita sampai sampai Desember ini 20,6 juta ton. Meningkat dibanding 19 juta ton di 2014‎," kata Nasrullah dalam konferensi pers di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Kamis (22/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menghitung, produksi 20,6 juta ton itu dapat memenuhi kebutuhan jagung untuk kebutuhan benih tahun ini 105.000 ton, untuk konsumsi langsung sebanyak 398.000 ton, untuk kebutuhan pakan ternak 14,86 juta ton, dan kebutuhan lainnya 4 juta ton. Losses produksi jagung diperkirakan 1 juta ton.

"Kalau ditotal semuanya maka kita masih ada surplus 174.000 ton," paparnya.

Pihaknya juga tak percaya pengusaha pakan ternak kekurangan stok jagung. Buktinya, Kementan mendapat laporan dari Pusat Informasi Pasar (Pinsar) bahwa pasokan jagung sebenarnya normal, namun habis karena ‎diborong oleh pengusaha pakan ternak.

"Dalam surat disebutkan peternak kesulitan mendapat pakan jagung. Tapi Ketum Pinsar menyebutkan pabrik pakan memborong jagung petani karena takut tidak mendapat pasokan. Ini kan kontradiktif," ucapnya.

Diakuinya, jagung lokal memang sulit diperoleh ‎meski produksinya melimpah karena sentra-sentranya berada jauh dari industri pakan ternak. Namun, itu bukan alasan kuat untuk mengimpor jagung.

Nasrullah meminta para pengusaha pakan untuk blusukan membeli jagung dari petani ketimbang mengimpor sebagai bentuk dukungan pada cita-cita swasembada pangan.

"Berbagai persoalan muncul, terrmasuk aksesibilitas memperoleh jagung. Namun ini (pengendalian impor) adalah upaya kalau kita ingin mendukung bangsa ini. Memang jagungnya (lokal) tersebar, impor lebih mudah. Tapi tidak mencerminkan pro terhadap bangsa ini kalau impor. Kita harapkan pengguna pakan bisa lebih melebarkan sayap untuk mencari, membeli produksi jagung rakyat," tutupnya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads