Direktur Pakan Ternak Kementan Nasrullah membantah adanya kelangkaan jagung, menurutnya, produksi jagung tahun ini melimpah, naik 1,6 juta ton dibanding 2014, sehingga tidak ada kelangkaan jagung.
"GPMT telah mensurati Pak Menteri Pertanian terkait jagung. Beberapa poin yang ingin saya sampaikan adalah, dari segi data, berdasarkan Aram I BPS, produksi kita sampai sampai Desember ini 20,6 juta ton. Meningkat dibanding 19 juta ton di 2014," kata Nasrullah dalam konferensi pers di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Kamis (22/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ditotal semuanya maka kita masih ada surplus 174.000 ton," paparnya.
Pihaknya juga tak percaya pengusaha pakan ternak kekurangan stok jagung. Buktinya, Kementan mendapat laporan dari Pusat Informasi Pasar (Pinsar) bahwa pasokan jagung sebenarnya normal, namun habis karena diborong oleh pengusaha pakan ternak.
"Dalam surat disebutkan peternak kesulitan mendapat pakan jagung. Tapi Ketum Pinsar menyebutkan pabrik pakan memborong jagung petani karena takut tidak mendapat pasokan. Ini kan kontradiktif," ucapnya.
Diakuinya, jagung lokal memang sulit diperoleh meski produksinya melimpah karena sentra-sentranya berada jauh dari industri pakan ternak. Namun, itu bukan alasan kuat untuk mengimpor jagung.
Nasrullah meminta para pengusaha pakan untuk blusukan membeli jagung dari petani ketimbang mengimpor sebagai bentuk dukungan pada cita-cita swasembada pangan.
"Berbagai persoalan muncul, terrmasuk aksesibilitas memperoleh jagung. Namun ini (pengendalian impor) adalah upaya kalau kita ingin mendukung bangsa ini. Memang jagungnya (lokal) tersebar, impor lebih mudah. Tapi tidak mencerminkan pro terhadap bangsa ini kalau impor. Kita harapkan pengguna pakan bisa lebih melebarkan sayap untuk mencari, membeli produksi jagung rakyat," tutupnya.
(hen/hen)










































