GPMT menyebutkan bahwa harga jagung di dalam negeri melonjak hingga Rp 4.000-4.200/kg, padahal normalnya hanya Rp 2.800-3.200/kg atau 30%. Kementan membantah adanya kelangkaan jagung, berdasarkan perhitungan Kementan, ada surplus 174 ribu ton jagung tahun ini.
Direktur Pakan Ternak Kementan Nasrullah menyatakan, adanya kelangkaan bukan disebabkan oleh kekurangan produksi jagung, melainkan βoleh permainan para spekulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasrullah menduga biang keladi kelangkaan jagung ini adalah pedagang-pedagang besar yang memiliki modal dan infrastruktur memadai untuk menimbun jagung.
"Peternak lokal tidak mampu beli jagung dalam jumlah besar, silo (tempat penyimpanan jagung) kan mahal, tapi kalau pedagang besar beli borong, itu bisa saja," ucapnya.
Bisa juga pasokan jagung langka karena diborong oleh pengusaha-pengusaha pakan tertentu.β "Dalam surat GPMT disebutkan peternak kesulitan mendapat pakan jagung. Tapi Ketum Pinsar menyebutkan pabrik pakan memborong jagung petani," katanya.
Namun, pihaknya tak mau membeberkan lebih jauh siapa saja yang melakukan penimbunan jagung. "Soal spekulan, saya tidak mau banyak berkomentar, saya hanya melihat mungkin saja," tutupnya.
(hen/hen)











































