Awalnya, New Priok diperkirakan bisa beroperasi pada September 2015. Lino mengaku ada 2 kendala yang memicu mundurnya pengoperasian pelabuhan yang dibangun di atas laut utara Jakarta itu.
Pertama, akses New Priok terganggu oleh tiang-tiang tol priok yang dibongkar oleh kontraktor Jepang. Totalnya, ada 69 tiang raksasa yang dibongkar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor kedua ialah pasokan listrik. Suplai listrik belum masuk ke area terminal New Priok sehingga memicu keterlambatan.
"Ada sedikit masalah karena suplai listrik belum masuk sehingga masih pakai genset darurat," ujarnya.
Lino menjelaskan proses soft launching New Priok diundur hingga Januari 2016. "Soft operation Januari 2016. Saat itu, kapal besar ukuran 18.000 TEUs bisa masuk karena ke dalam 16 meter. Kapasitas terminal saat soft launching 800.000 TEUs, tapi baru full operation Juli 2016," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, menyindir perkembangan mega proyek ini. Alasannya, proyek ini telah mundur beberapa kali dari target semula.
Seharusnya New Priok bisa beroperasi pada September 2014, kemudian diusulkan mundur pengoperasian pada September 2015. Lalu Pelindo II kembali mengirim surat ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mengajukan pengunduran pengoperasian.
"September seharusnya Kalibaru (New Priok) sudah beroperasi tapi September nggak jalan, malah mereka minta perpanjangan," kata Jonan beberapa waktu lalu.
Bila di dalam kontrak konsesi ada ketentuan sanksi, Jonan menyebut Pelindo II bisa dikenakan denda.
"Kalau di dalam perjanjian ada, mereka bayar denda," ujar Jonan.
(feb/ang)










































