"Kopi di Indonesia itu beda sisi bukit saja, masih satu gunung, bisa beda rasa," kata Resi, seorang Q-Grader atau penilai kualitas kopi, ditemui saat cupping test di Hall C, JIExpo Kemayoran, Jumat (23/10/2015).
Penentuan kualitas kopi ditentukan melalui deskripsi karakteristik rasa. Penilaian kopi dilakukan ahli penilai yang mengetes rasa dan aroma yaitu disebut Q-Grader, proses yang dilakukan disebut cupping.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari ini Caswell's lab memberi kesempatan pengunjung menjajal menjadi Q-grader. Pengunjung diminta mencium aroma kopi, lalu menyeruput rasa dari keenam jenis kopi yang disajikan. Masing-masing jenis kopi disajikan dalam lima cawan.
Kopi diberi kode kopi A, B, C, D, E dan F. Pengunjung bisa melihat karakter rasa kopi sesuai diagram rasa. Ada istilah fruity, chocolaty, sweety, hingga spicy. Usai menghirup aroma dan menyeruput kopi, pengunjung dan Q-Grader memberikan komentarnya.
"Kopi A karakternya kayak buah-buah. Asamnya seperti lemon. Memang sedikit mild atau ringan sekali," kata Mira, seorang Q-Grader.
Kopi B, menurut Mira, paling berbeda rasanya diantara semua jenis kopi yang disajikan. "B paling beda. Ada yang suka? Ya, ada yang suka dan tidak. Ada yang menganggap terlalu manis atau asam," ujarnya.
Sedangkan kopi C, giliran Resi menilai, menurutnya kopi C lebih berkarakter karamel dan cokelat. "Chocolaty, sedikit rasa lemon, namun manisnya lebih tinggi. Body nya medium. Body itu berat ringannya kopi di dalam mulut kita," kata Resi.
Paling banyak disuka rupanya kopi D. "Kopi D ini itu manis. Contoh kopi yang manisnya paling tinggi dan ballance antara manis, pahit san lainnya. Chocolaty, sweety," ucap Resi. Sedangkan kopi E menurutnya punya citarasa citrus dan karamel.
Resi berbagi tips, yaitu semakin sering menjajal beragam kopi, maka semakin mudah menemukan karakter kopi. "Makin banyak karakter yang kita tangkap di flavor wheel maka nilai kopi makin bagus maka harga makin tinggi," tambahnya.
Menut Resi, kopi yang berasal dari daerah yang sama, karakternya rasanya akan cenderung sama. Ia mencontohkan kopi A yang agak mengandung rasa jeruk.
"Agak rasa jeruk. Di daerah asalnya selain ditanami kopi, banyak ditanami jeruk yaitu kopi ini berasal dari Kintamani, Bali," katanya.
Kopi B, sama-sama dari Kintmani, namun rasanya bisa jauh berbeda. "Kopi B dari Kintamani juga tapi bisa beda rasa karena proses pascapanennya berbeda. Buah-buahnya langsung dikeringkan sama bijinya di dalam," kata Resi.
Kopi C dan E, kata Resi, sama-sama berasal dari dari Garut, Jawa Barat. Kopi C berasal Gunung Manglayang sedangkan kopi E dari Cikurai. "Dekat tapi rasanya bisa sedikit beda. Ini tergantung kondisi tanah dan pertanaman di sekitarnya. Beda sisi gunung sudah beda rasa," kata Resi.
Kopi D didaulat sebagai juara diantara keenam kopi yang disajikan.
"Ini juaranya. Kopi D ini dari dari Jampit, Bondowoso, Jawa Timur. Dari PTPN XII. Manisnya paling tinggi dan karakter rasa paling beragam. Kegunaan cupping test ini, kalau ada yang sesuai selera, silakan langsung datangi petaninya di area pameran ini," tutup Resi.
(hen/hen)











































