Waktu itu, kehadiran Presiden Jokowi disambut langsung oleh Presiden Kamar Dagang Tom Donohue, Presiden Dewan Bisnis AS (US ASEAN Business Council) Alex Feldman, dan Presiden UNISINDO Ambassador David Merril. Selain itu juga hadir 250 pengusaha dan pengambil kebijakan dari Indonesia dan Amerika Serikat (AS).
Dalam kunjungan Jokowi ke AS ini dicapai kesepatan kerja sama atau deal business senilai US$ 20,075 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
A. Kesepakatan bisnis US$ 15,705 miliar:
1. Perjanjian jual beli gas alam cair (LNG) antara Pertamina dan Corpus Christie Liquefaction senilai US$ 13 miliar.
2. Ekspansi Phillip Morris sebesar US$ 1,9 miliar. Sebanyak US$ 500 juta untuk belanja modal dan US$ 1,4 miliar berupa penerbitan saham baru di PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Belanja modal tersebut untuk perluasan pabrik dan perkantoran serta investasi yang akan dilakukan dalam kurun waktu tahun 2016-2020.
3. Coca Cola juga akan investasi US$ 500 juta untuk perluasan dan penambahan produksi, pergudangan, distribusi, dan infrastruktur minuman ringan selama 2015-2018.
4. Rencana pengembangan lahan βshale gasβ Eagle Ford, Fasken milik Swift Energy yang akan dilakukan oleh Saka Energi dengan Swift Energy di Webb County, Texas dengan nilai US$ 175 juta.
5. Kesepakatan bisnis antara PT PLN (Persero) dengan General Electric, yaitu antara PLN Gorontalo dengan General Electric dengan nilai US$ 100 juta untuk pembangunan 100 MW gas turbin dan cydepower di Gorontalo.
6. Kerja sama Universitas Udayana dengan Skychaser Energy untuk konservasi air dan reduce power consumption dengan nilai US$ 30 juta.
7. Kerja sama antara BNI syariah dengan Master card untuk peluncuran kartu debit haji dan umroh yang diselenggarakan oleh BNI Syariah dengan Master Card.
B. Kesepakatan bisnis bernilai US$ 4,547 miliar terbagi dalam tiga grup, yakni:
Group 1
1. Antara PT PLN (Persero) dengan UPC Renewables senilai US$ 850 juta untuk pembangunan 350 MW Pembangkit Listrik Tenaga Bayu dalam waktu tiga tahun (2015-2018).
2. Antara Cikarang Listrindo dengan General Electric nilai investasi US$ 600 juta untuk perluasan pembangunan pembangkit listrik (IPP).
3. Antara PT Indonesia Power dengan General Electric untuk pembangunan pembangkit di Jawa Tengah sebesar 700 MW senilai US$ 400 juta.
4. Antara PT PLN Batam (Persero) dengan General Electric senilai US$ 525 juta untuk pembangunan pembangkit bergerak (mobile) 500 MW di Mataram, Bangka, Tanjung Jabung, Pontianak, Lampung dan Sei Rotan.
Group 2
1. Antara PT Kereta Api Indonesia dengan General Electric, senilai US$ 60 juta untuk perawatan 50 lokomotif selama 8 tahun.
2. Antara PT PLN (Persero) dengan Caterpillar senilai US$ 500 juta untuk proyek 2 GW pembangkit tenaga hibrid dan Proyek Solar PV+ energy storage untuk microgrid di daerah-daerah terpencil (500 pulau) dengan solusi pembiayaan initial capital investment melalui power purchase agreement dengan PLN.
3. Rencana perluasan investasi Cargill pada tahun 2015-2019 dengan nilai US$ 750 juta, di mana sebesar US$ 84 juta sudah direalisasikan sehingga investasi baru yang akan dilakukan US$ 666 juta.
4. Pembangunan Remanufacturing Facility untuk Cylinder Head di Cileungsi, Bogor oleh Caterpillar senilai US$ 12 juta yang merupakan self signing.
Group 3
1. Kerja sama antara Perum Peruri dengan Crane Currency untuk pembangunan pabrik pengaman uang kertas yang akan dibangun di Karawang dengan nilai US$ 10 juta dan antara Perum PERURI dengan Jarden Zinc untuk pembangunan pabrik di Karawang dengan nilai US$ 30 juta.
2. Kerja sama PT Pertamina dengan Bechtel corporation dalam kurun waktu 5 tahun untuk pembangunan dan pengembangan kilang dengan nilai transaksi US$ 800 juta.
3. Antara Kilat Wahana Jenggala dengan Hubbell Power Systems yaitu ekspansi pada existing plant yang memproduksi/assembly insulator transmisi polymer untuk distribusi listrik, menambah lokalisasi transmisi US$ 5-10 juta.
(ang/rrd)











































