Ia menegaskan operator tol tak bisa disalahkan karena jalan tol macet meski kenaikan tarif tol rutin 2 tahun sekali. Menurutnya masyarakat pengguna tol juga perlu intropeksi apakah sudah melakukan upaya mengurangi kepadatan di pintu gerbang yang selama ini menjadi biang keladi kemacetan tol.
Fatchur menegaskan operator tol sudah aktif menyediakan Gerbang Tol Otomatis (GTO) dengan sistem e-toll card yang disediakan oleh perbankan nasional. Namun menurutnya, masih banyak pengguna jalan yang malas membeli dan menggunakan fasilitas e-toll.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan beberapa pintu tol lainnya di berbagai ruas tol juga sudah mencoba memaksimalkan penggunaan e-toll dengan memperbanyak GTO. Namun di lapangan, banyak konsumen lebih banyak menggunakan pintu uang tunai atau non GTO.
"Kita sudah mencoba 4 GTO, 2 non GTO tidak berhasil juga. Di Semanggi (Tol Dalam Kota Jakarta) tidak berhasil, masyarakat yang nggak mau beli (e-toll)," katanya.
Fatchur kembali menegaskan bahwa operator hanya menyediakan layanan GTO untuk mempercepat antrean di pintu tol, sehingga kemacetan tol bisa dikurangi. Pihaknya tak bisa memaksa pengguna tol memakai e-toll card di GTO.
"Kita sudah kasih GTO, bukan jadi urusan saya maksa-maksa pengguna, nggak boleh. Kalau pakai tunai dan non tunai itu hak mereka," katanya.
(hen/ang)











































