Potensi Investasi di Perbatasan, Ada Beras Organik Makanan Raja Brunei

Potensi Investasi di Perbatasan, Ada Beras Organik Makanan Raja Brunei

Lani Pujiastuti - detikFinance
Selasa, 03 Nov 2015 14:46 WIB
Potensi Investasi di Perbatasan, Ada Beras Organik Makanan Raja Brunei
Jakarta - Daerah perbatasan Indonesia belum banyak dilirik sebagai tujuan investasi, padahal potensinya cukup besar dari sisi ekonomi. Salah satunya, provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Provinsi yang baru terbentuk kurang dari 3 tahun ini menawarkan potensi investasi sektor energi, hasil hutan, pertanian, hingga perkebunan. Khusus pertanian, ada potensi pertanian beras organik yang konsumsinya raja di Brunei.

Minimnya kondisi infrastruktur penunjang investasi seperti listrik, jalan, hingga komunikasi masih menjadi tantangan masuknya investasi ke daerah perbatasan. 'Etalase' negara pun masih ditemui ketimpangan dengan kondisi negara tetangga yang berhadapan langsung seperti antara Sebatik di Indonesia dengan Tawau di Malaysia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Daerah Sebatik Kalimantan Utara berbatasan langsung dengan Tawau Malaysia. Perbandingannya kalau di Tawau malam hari terang benderang terlihat lebih maju dengan gedung-gedung tinggi sedangkan Sebatik sedikit gelap tanpa bangunan tinggi. Pintu gerbang masuk Indonesia tanpa aspal, sedangkan masuk ke Malaysia aspalnya sangat mulus," ungkap Frederick, Kepala Bappeda Provinsi Kalimantan Utara, dalam Forum Pengembangan Investasi Daerah Perbatasan Border Investment Summit, di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (3/11/2015).

Kondisi infrastruktur menjadi tantangan yang kerap diungkapkan investor. "Melihat kondisi infrastruktur seperti itu, investor langsung balik kanan, mau buka apa di daerah perbatasan," ujar Frederick.

Wilayah dengan garis batas 1.020 km tersebut topografinya berupa pegunungan dan pesisir. "Wilayah perbatasan pegunungan umumnya lebih terisolir. Hanya bisa dijangkau dengan penerbangan. Sedangkan pesisir lebih mudah dijangkau," kata Frederick.

Potensi investasi di Kalimantan Utara sangat besar termasuk di sektor energi. "Cadangan gas bumi sudah terdidentifikasi sebesar 23 triliun kaki kubik cukup untuk produksi selama 30 tahun," jelasnya.

Selain itu, Frederick menjelaskan tengah berjalan proses pembangunan PLTA di Sungai Kayak berkapasitas 6.000 MW. Di Sungai Malinau berkapasitas 4.000 MW.

Selain sektor energi, ada potensi di sektor pertanian seperti lahan rice estate seluas 17.400 hektar di Nunukan. Frederick menceritakan, beras organik dari daerah tersebut menjadi konsumsi kesultanan Brunei.

"Kayan punya beras organik unggul makanan raja Brunei. Sangat terkenal di Malaysia, dibawa ke Malaysia, dikemas di sana dan diberi label made in Malaysia," ujar Frederick.

Frederick menjelaskan, potensi lainnya yang tidak kalah menarik yaitu lahan tambak seluas 195.000 hektar. Perkebunan sawit yang dikelola 60 perusahaan di Kaltara sudah mencapai luas 832.207 hektar.

Potensi investasi yang bisa digarap di Kaltara, lanjut Frederick ada tambang batu bara, emas, dan uranium. Perkebunan ada kakao, sawit, hingga ubi jalar. Wisata pun ada yaitu arung jeram dengan tingkat kesulitan tinggi.

"Potensi ini sudah ada, tinggal menunggu investor datang," katanya.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads