Kenaikan Harga BBM Skenario Liberalisasi Sektor Migas
Rabu, 02 Mar 2005 17:55 WIB
Jakarta -
Kenaikan harga BBM merupakan skenario pemerintah untuk menggolkan liberalisasi sektor migas. Bahkan saat ini, sudah banyak pemain asing yang mengantongi izin untuk membangun SPBU.Demikian dikatakan pengamat ekonomi Revrisond Baswir di Hotel Treva, Jalan Menteng Raya, Jakarta, Rabu (2/3/2005). Revrisond mengatakan, liberalisasi sudah dipersiapkan sejak adanya UU Migas, batalnya UU Kelistrikan dan hanya diamandemennya UU Migas. Fakta tersebut adalah karena loby dari pihak migas yang sangat kuat"Dengan alasan pemain asing tidak mau masuk kalao BBM masih disubsidi maka subsidi dicabut dan akan menjadi harga pasar. Bahkan sekarang banyak pemain asing sudah mengantongi izin, tinggal mereka bangun SPBU saja," katanya. Bahkan menurut kabar yang beredar telah digodok oleh BPH Migas dan akan dikeluarkan April 2005 ini. Revrisond menilai dengan harga minyak dunia yang naik dari US$ 24 per barel menjadi US$ 35 per barel pada tahun lalu seharusnya pemerintah mendapatkan penerimaan Rp 70 triliun. Jadi dengan subsidi yang Rp 60 triliun ini sebenarnya masih surplus Rp 10 triliun. "Kenapa harga BBM harus dinaikkan," tanya Revrisond.Dia menilai, argumen pemerintah hanya membodohkan masyarakat. "Memang subsidi akan menjadi Rp 60 triliun kalau kita tetap pakai harga lama tapi dengan adanya kenaikan BBM subsidi kita turun menjadi Rp 30 triliun tapi mengapa ketika bicara soal dana kompensasi, dana yang dimunculkan hanya sekitar Rp 10 triliun. Dimana perginya yang Rp 20 triliun," ungkapnya.
(mar/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































