Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia minus 0,69% dan impor minus 6,11% di kuartal III-2015.
"Ekspor penyebabnya adalah harga komoditas masih lemah, baik migas dan non migas. Terjadi perlambatan ekonomi di negara mitra dagang seperti AS, China dan Singapura. Ekspor ini terkontraksi terutama untuk barang minus 1,82%. Tapi ekspor jasa masih tumbuh 4,7% akibat peningkatan jumlah wisman," jelas Deputi Neraca dan Analisi Statistik BPS, Kecuk Suharyanto, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Kamis (5/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk konsumsi rumah tangga, Kecuk mengatakan, pertumbuhan terjadi di sektor kesehatan, pendidikan, restoran, dan hotel. Sementara dari penjualan ritel melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.
"Tapi tumbuh pesat untuk telekomunikasi seperti penjualan HP, serta makanan dan minuman," imbuh Kecuk.
Konsumsi pemerintah juga naik karena belanja pemerintah mengucur untuk pencairan gaji ke-13 Pegawai Negeri Sipil (PNS).
"Untuk impor kontraksinya cukup dalam, karena impor barang terkontraksi dan demikian juga dengan impor jasa yang dipicu oleh impor jasa angkutan," kata Kecuk.
(dnl/ang)











































