Sejumlah pedagang di sentra penjualan ikan asing di Pasar Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara menyebut, stok teri khususnya asal Thailand selalu ludes dalam 2 hari.
"Kalau kita ambil yang Jengki Thailand sehari bisa 50 dus, satu dus isi 10 kg. Jawa kita juga ambilnya sama 50 dus, tapi yang Thailand pasti habis duluan. Karena orang beli pasti nanya yang Thailand dulu," kata Yusuf, pedagang teri impor yang ditemui detikFinance, di Pasar Kalibaru, Jumat (6/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dibandingkan sama yang Jawa atau Padang, jauh bedanya. Lokal yang bagus Medan saja, hanya harganya nggak ketulungan. Karena teri ini kan yang bagus atau tidaknya dari keringnya dulu, yang lokal lembab, yang Thailand benar-benar kering karena dia pakai oven. Yang Jawa kan hanya dijemur," jelas Yusuf.
Sementara untuk teri impor lain yang berasal dari Vietnam, meski kelembabannya hampir sama dengan teri lokal, teri Vietnam lebih unggul dalam hal kebersihan dan tingkat keputihan.
"Vietnam menang putih saja, lebih bersih, tapi yang nomor satu tetap Thailand. Hanya sekarang yang Vietnam sudah nggak masuk lagi, yang masih ada stok yah impor dari Thailand saja," katanya.
Hal yang sama juga diakui pedagang lainnya, bernama Dirjo. Menurutnya, rata-rata pelanggan baru akan mencari teri asal Jawa bila produk teri Thailand sudah habis atau selisih harganya mulai jauh lebih tinggi.
"Kalau Thailand meski laris tapi stok terbatas. Sementara dari Vietnam kadang ada kadang nggak di Kapuk, pedagang kan juga rebutan," tuturnya.
Dirjo mengungkapkan, selain teri jenis teri Jengki yang dihargai Rp 38.000/kg, ada beberapa jenis teri impor lain yang jadi favorit pembeli.
"Dari Thailand ada namanya teri Pip harganya Rp 70.000/kg, dan dari Vietnam namanya MH seharga Rp 38.000/kg. Kalau lokal kaya jenis Tawar Bunga dari Padang Rp 40.000/kg, dari Medan lebih mahal lagi Rp 85.000/kg," pungkasnya.
(hen/hen)











































