"Saat ini infrastruktur di Indonesia dalam kondisi belum sesuai harapan, biaya logistik presentasi besar ke komponen harga di konsumen. Ini karena infrastruktur masih terbatas dan belum efisien," kata Menko Perekonomian, Darmin Nasution, saat menutup acara Indonesia Infrastructure Week 2015, di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (6/11/2015).
Keterbatasan infrastruktur juga memicu kepadatan jalan. Darmin menyebut, waktu tempuh antara kota besar di Indonesia rata-rata 100 kilometer (km) untuk setiap 2,5 jam.
"Waktu tempuh rata-rata koridor utama di Indonesia 2,5 jam untuk 100 km. Ini akibat macet. Bila dibandingkan Thailand dan Malaysia, kita 2 kali lebih lama," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita masih tertinggal negara tetangga seperti Thailand dan Filipina yang hampir 100%. Kita akan perbaiki, kalau tidak maka Indonesia akan kehilangan daya saing," sebutnya.
Melihat kondisi ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah berkomitmen mempercepat pembangunan infrastruktur. Proyek kelistrikan, jalan, pelabuhan, kereta hingga bandara akan dikebut hingga 2019. Meski demikian, Darmin membenarkan ada kendala yang sedang diselesaikan oleh pemerintah agar realisasi proyek infrastruktur bisa dipercepat
"Dilantik Oktober 2014, Presiden Jokowi tetakankan, komitmen sediakan infrastruktur tapi implementasi proyek berjalan lambat karena kendala on the ground seperti tidak jelasnya terkait regulasi hukum, peraturan kurang mendukung, kuranngya pembiayaan jangka panjang, proyek nggak disiapkan dengan baik, manajemen proyek buruk, kurang sumber daya manusia, kurangnya industri pendukung, keterbatasan dukungan masyarakat," jelasnya.
(feb/dnl)










































