Hal tersebut terlihat dari pola konsumsi masyarakat Indonesia yang mulai memperlihatkan pergeseran dari nasi ke produk olahan gandum seperti roti dan mie instan.
"Produksi beras memang turun, tapi kebutuhan pangan penduduk rupanya masih aman-aman saja karena konsumsi gandum meningkat. Nah ini perlu dicermati, jangan sampai budaya makan beras diganti budaya makan gandum. Itu hati-hati," kata Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso ditemui dalam acara Rapat Kerja Nasional Kementerian Pertanian, 2015 di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (9/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Naiknya konsumsi gandum yang turut meningkatkan impor gandum, kata Soetarto menjadi sinyal bahaya karena lahan di Indonesia tidak cocok ditanami gandum. Konsumsi per kapita beras Indonesia masih di atas 100 kg/kapita/tahun.
"Kita nggak bisa nanam gandum. Kapan kita bisa berdaulat pangan? kita harus mulai kenal diversifikasi pangan. Kalau produksi beras kurang, kan bisa kembali lagi makan pokok seperti zaman dulu. Makan jagung, makan umbi-umbian," tambahnya.
Jika harus memilih antara impor beras atau impor gandum, Soetarto mengatakan lebih memilih impor beras, karena impor gandum akan semakin mengikis budaya makan beras dan semangat petani untuk menanam padi.
"Kalau terpaksa dan harus impor pangan pokok, kita lebih baik impor beras daripada mengubah budaya makan gandum. Beras saat ini ada, hanya saja harganya memang tinggi," katanya.
(hen/hen)











































