Di Depan Mahasiswa, Darmin: Paket Ekonomi Sudah Berdampak

Di Depan Mahasiswa, Darmin: Paket Ekonomi Sudah Berdampak

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 09 Nov 2015 14:15 WIB
Di Depan Mahasiswa, Darmin: Paket Ekonomi Sudah Berdampak
Pemerintah Umumkan Paket Kebijakan Ekonomi
Jakarta - Pemerintah telah 6 kali meluncurkan paket kebijakan ekonomi tahun ini. Paket kebijakan yang ke-6 baru saja diluncurkan pada awal November.

Menurut Menteri Koordinator bidang Perekonomian (Menko Perekonomian), Darmin Nasution, paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah sudah ada dampaknya dalam jangka pendek. Buktinya, penguatan rupiah menjadi yang tertinggi di Asia Tenggaraβ€Ž plus India setelah pengumuman paket ekonomi jilid III.

"Sampai paket kedua, rupiah adalah yang terbawah bersama Malaysia di Asean plus India. Tapi setelah paket kedua dan ketiga, Indonesia yang tertinggi," ujar Darmin dalam kuliah umum di kampus UI, Depok, Senin (9/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah mulai sedikit membaik di kuartal III 2015.β€Ž

"Bukan hanya membuat kurs terkendali, kita mulai bisa membalikan arah pertumbuhan ekonomi. Kalau year on year, sampai September 4,73%, memang hanya sedikit lebih baik dibanding kuartal II. Tapi kita sudah mulai berhasil membuat (pertumbuhan ekonomi) tidak turun lebih jauh lagi," kata Darmin.

Darmin menjelaskan, paket kebijakan ekonomi dimulai dari dimulai dari pemberian kemudahan untuk investasi di bidang industri dan kemudahan ekspor. Kemudian dilanjutkan dengan deregulasi pertanahan yang merupakan salah satu hambatan utama investasi di Indonesia.
β€Ž
Selanjutnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan formulasi upah baru yang lebih memberi kepastian baik pada pengusaha maupun pekerja.

β€Ž"Dunia bisnis itu yang paling penting adalah predictable, baru dia bisa berhitung, lalu ambil keputusan. Kita perlu formula agar perdebatan UMP tidak berbelit seperti di masa lalu, dan investor bisa menghitung berapa upah minimum di Indonesia 10 tahun lagi," jelas mantan Gubernur Bank Indonesia itu.

β€ŽSetelah itu dibuat insentif untuk revaluasi aset. Tujuannya supaya neraca perusahaan lebih besar sehingga bisa memperoleh kredit lebih besar untuk pengembangan usaha. Selain itu, pemerintah juga memberi kemudahan untuk mendorong investor masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).β€Ž

"Ada kawasan dimana orang jauh lebih mudah investasi. Di KEK itu tidak berlaku DNI (Daftar Negatif Investasi). Jadi kalau ada yang investasi di KEK, dia bikin rumah sakit, dia bikin universitas, bisa dengan berbagai fasilitas menarik," kata Darmin

(hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads