Menurut Sofyan, buruknya kualitas pengadaan barang dan jasa tersebut akibat sistem tender di Indonesia yang masih berorientasi pada harga terbaik. Di sisi lain, pengawasan kualitas pengadaan pun belum banyak dilakukan secara ketat.
"Kalau harga tinggi di tender saya rasa tak masalah, asal kualitas bagus. Karena yang pertama itu kualitas, sistem pengadaan ini yang perlu diperbaiki, buat apa efisiensi banyak dengan lelang elektronik tapi mengorbankan kualitas," kata Sofyan di acara Rakornas Lembaga Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LPSE), Graha Sudirman, Jakarta, Selasa (10/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di kantor saya sendiri, pengadaan internet nggak reliable, jelek kualitasnya, padahal di Jakarta. Makanya kita pejabat lebih suka pakai Gmail daripada email kantor, karena kualitasnya nggak bagus. Makanya ada benarnya juga orang bilang APBN besar tapi nggak berdampak ke rakyat," tutur Sofyan.
"Lelang elektronik harus didorong ke situ. Salah satu yang harus direvisi itu pengadaan, orang Inggris tak pernah permasalahkan harga, yang penting kualitas. Ubah bagaimana agar setiap miliar uang kita dibelanjakan secara benar," tambahnya.
Hal lain yang membuat kualitas pengadaan tak sesuai harapan, sambung Sofyan, adalah penetapan konsultan perencanaan dan pengawasan yang kurang kompeten.
"Memang dengan elektronik fleksibilitas tercapai. Tapi tak bisa elektronik ini atur pengadaan yang sedemikian banyak dijadikan seragam. Utamanya di pengawasan dan perencanaan, tapi (pemilihan) konsultan ini harus review lagi. Idealnya, biaya konsultan itu 0,5-4%, tak apa mahal asal kualitas bagus. Itu yang harus dibongkar lagi," katanya.
(hen/hen)











































