"Jagung sekarang harganya bagus. Harga bagus, itu hasil dari fungsi kontrol impor. Itu kenapa kami ngotot kontrol impor. Harga jagung rata-rata Rp 3.000-4.000/kg. Biarlah petani menikmati harga, supaya bisa berproduksi lagi," ungkap MentanAmran Sulaiman di Hotel Seven, Lampung, Selasa (10/11/2015) malam.
Mentan juga menyebut produksi jagung meningkat, maka jelang panen raya perlu diantisipasi agar harga tidsh jatuh. "Produksi juga meningkat, bagaimana lihatnya? saya cek penjualan benih ke produsen, penjualan mereka meningkat, produksi jagung naik kan. Kita kontrol impor, untuk jaga panen raya. Di Jatim sudah banyak panen," tanbahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mau (jagung) sudah di jalan, di pelabuhan, mau di mana saja akan kita kendalikan. Di Tanjung Priuk itu bukan penahanan. Itu bukan tugas Kementan di pelabuhan. Tugas kami mengendalikan impor. Sebentar lagi mau panen raya jagung," tegasnya.
Mentan juga menyinggung terkait naiknya Nilai Tukar Petani (NTP). Upaya menggenjot produksi dan mengendalikan impor baik jagung maupun padi, menurutnya menjadi penyumbang naiknya NTP.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa NTP Oktober naik 0,13% dari September 102,33 menjadi 102,46. "NTP naik itu multiplier effect dari menggenjot produksi, mengendalikan impor, lalu harga naik. Harga harus di atas break even point (BEP) agar petani untung. Petani untung, NTP naik," pungkasnya.
(ang/ang)











































