Hal ini disampaikan Susi dalam acara sosialisasi program pembiayaan nelayan Jangkau, Sinergi dan Guideline atau yang dikenal dengan nama Jaring, di Pantai Sendang Biru, Malang, Jawa Timur, Jumat (13/11/2015).
Ia mengatakan sektor perikanan satu-satunya yang mencapai pertumbuhan 8,4%. Sehingga capaian ini harus terus ditingkatkan karena potensi kelautan Indonesia sangat besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, adalah fokus pada pemberantasan illegal fishing. Ia mengungkapkan dampak illegal fishing berdampak buruk, periode 2003-2013, sektor kelautan dan perikanan Indonesia seperi hidup segan mati tak mau.
β
Banyak jumlah nelayan berkurang dari 6,2 juta menjadi 600.000 orang. Sebanyak 115 eksportir gulung tikar, Indonesia kehilangan US$ 4-5 miliar.
"Sekarang, semua sudah bergairah kembali. Saya yakin para nelayan di Sendang Biru merasakan beberapa bulan ini hasilnya lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya," katanya.
Kedua, Susi ingin menjadikan laut sebagai masa depan Indonesia, maka harus ada programkan hal yang berkelanjutan, baik program penangkapan dan budi daya. Ia menegaskan unsur keberlanjutan harus menjadi pertimbangan utama, misalnya dengan penertiban alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bom potas dan lainnya.
"Kalau tidak dilakukan, perbankan pun tidak mau memberikan pembiayaan, karena nanti ikan cepat habis, sehingga nelayan tidak bisa bayar lagi kreditnya," katanya.
Ketiga, yaitu kemandirian pakan ikan, selama ini Indonesia masih impor pakan ikan dan harganya tinggi karena terkena dampak kurs dari pembelian bahan baku. Pihaknya sudah kumpulkan semua pabrik pakan untuk secara prorgresif menurunkan harga jual.
"Kalau tidak, saya bilang, saya sebagai ototritas, juga bisa mengimpor langsung. Memakai Perindo untuk jatuhkan harga supaya pembudidaya dapat harga murah. Saya sudah ancam pabrik pakan," katanya.
Keempat, pertumbuhan sumber Indonesia juga harus baik, dengan peningkatan angka protein dengan konsumsi ikan oleh masyarakat. Susi mengungkapkan berdasarkan angka statistik 2014, 1 dari 3 anak Indonesia tumbuhnya pendek karena kurang protein.
"Itu sebuah tanda bahwa protein yang dikonsumsi berkurang," katanya.
(hen/hns)











































