Mengintip Pelabuhan Tersibuk di Utara Australia

Laporan dari Queensland

Mengintip Pelabuhan Tersibuk di Utara Australia

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Senin, 16 Nov 2015 07:48 WIB
Mengintip Pelabuhan Tersibuk di Utara Australia
Townsville -

Port of Townsville merupakan salah satu pelabuhan barang tersibuk di wilayah Australia bagian Utara (Northern Australia). Proses lalu lintas barang mencapai 10,49 juta ton dan 250.000 TEUs kontainer dengan nilai ekspor-impor AU$ 11 miliar atau setara Rp 110 triliun per tahunnya.

detikFinance bersama rombongan PT Pelindo II (Persero) memiliki kesempatan untuk melihat lebih dekat aktivitas Port of Townsville yang berlokasi di wilayah Queensland ini.

Tidak sulit mencapai Port of Townsville, hanya butuh 10 menit perjalanan darat dari Bandara Townsville. Saat blusukan ke Port of Townsville, rombongan ditemani oleh General Manager Trade and Property, Port of Townsville, Claudia Brumme-Smith.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Claudia saat presentasi menjelaskan Port of Townsville memiliki peran besar untuk ekspor komoditas tambang hingga peternakan dan pertanian dari Australia bagian Utara. Sebanyak 70% ekspor-impor Australia Utara dilakukan di Port Townsville.

"Kita melayani 70% ekspor-impor di Australia bagian utara. Aktivitas kita 50% ekspor dan 50% impor," kata Claudia di Port of Townsville, Townsville, Queensland, Australia, Minggu sore (15/11/2016).

Port of Townsville juga menjadi gerbang ekspor produk gula, sapi, hingga tambang ke Indonesia. Claudia menyebut saat ini ada proses pengiriman sapi menggunakan pakal berkapasitas 4.000 ekor ke Indonesia.

"Kita menjadi pintu ekspor 300.000 ekor sapi hidup dan 50.000 ton daging sapi beku ke dunia. 60% atau setara 177.000 ekor sapi dikirim ke Indonesia," ujarnya.

Port of Townsvilee dan Pelindo II, lanjut Claudia, telah menjalin kerjasama untuk mendukung pengembangan New Port di Sorong, Papua Barat. Nantinya, Proses pengiriman barang dari Australia bagian utara ke Indonesia bisa dipercepat dan memotong waktu karena selama ini barang dari Port of Townsville dikirim ke Brisbane kemudian kapal besar ke ke Hong Kong atau Singapura setelah itu disebar ke Indonesia.

Ke depan, barang bisa dikirim langsung ke Sorong karena secara geografis, Queensland (Townsville) relatif dengan dengan Papua. Dari Sorong selanjutnya disebar ke Indonesia menggunakan konsep Tol Laut atau angkutan kapal barang berjadwal.

Lanjut Claudia, Port of Townsville memiliki 11 dermaga khusus untuk angkutan kontainer, curah hingga kapal pesiar. Dermaga tersebut dioperasikan oleh Port of Townsville bersama 8 mitra. Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan pengembangan pelabuhan.

"Meski kita dimiliki oleh Pemerintah Queensland tapi kita nggak memperoleh dukungan penuh dari pemerintah, maka kita perlu dukungan dari swasta," ujarnya.

Untuk lalu lintas keluar masuk pelabuhan, Port of Townsville dilengkapi oleh jaringan rel dan tol. Jaringan kereta dinilai bisa membawa lebih banyak barang namun memiliki keterbatasan untuk masuk ke wilayah-wilayah terpencil. Untuk wilayah terpencil, transportasi menggunakan truk.

Usai presentasi, Claudia yang hanya sendiri menemani rombongan keliling area pelabuhan seluas 300 hektar tersebut. Tanpa ada sopir, Claudia menjadi pemandu sekaligus driver kami. Sebelum memasuki area pelabuhan, kita harus berhenti di gerbang otomatis.

Claudia mengambil telpon di dekat pintu untuk menelpon petugas pengawas. Selanjutnya, pintu terbuka otomatis. Menurutnya, pengawasan pelabuhan dilakukan dari tower hingga area khusus menggunakan kamera.

Ia menunjukkan proses bongkar muat di setiap terminal, termasuk mengarahkan pada proses bongkar muat sapi ke Indonesia. Selama di dalam area pelabuhan, tidak terlihat debu dan sampah padahal di sini pelabuhan sentral pengiriman tambang untuk Autralia bagian utara.
Β 
"Di sini kita menerapkan standar tinggi sehingga tidak ada debu dan sampah," lanjut Claudia.

Claudia menyebut aktivitas pelabuhan berjalan 24 jam dalam seminggu meski demikian pada hari minggu aktivitas bongkar muat tidak terlalu ramai. Alasannya, operator lebih memilih untuk melangsungkan bongkar muat barang di hari normal karena ongkot pekerja yang mahal saat akhir pekan.

"Kita operasi 24 jam sehari 7 hari seminggu, tapi karena biaya tenaga kerja, maka hari Minggu jadi tidak banyak pekerja dan aktivitas. Ada upah lembur 25% dari gaji di akhir pekan," tambahnya.

Rombongan sempat ditunjukkan oleh Claudia ke area marina yang menjadi lokasi pelabuhan yacht dan kapal pesiar. Di sini juga terdapat kasino, pusat hiburan hingga hotel. Tak terasa, 30 menit kita berkeliling area Port of Townsville.

Sebelum menyudahi tugasnya, Claudia sempat memboyong rombongan ke Castle Hill untuk melihat Kota Townsville dan Port of Townsville dari puncak bukit. Keluar pelabuhan, rombongan langsung masuk jalan tol menuju Castle Hill.

(feb/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads